InternasionalPendidikan

Mahasiswa RI Ini Bongkar Fakta Hidup di Iran: Nyaman dan Cuma Rp500 Ribu per Bulan

rakyatdemokrasi
×

Mahasiswa RI Ini Bongkar Fakta Hidup di Iran: Nyaman dan Cuma Rp500 Ribu per Bulan

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa RI Ini Bongkar Fakta Hidup di Iran, Nyaman dan Cuma Rp500 Ribu per Bulan locusonline featured image Apr 2026

Di Balik Stigma Iran: Hidup Murah dan Nyaman ala Mahasiswa Indonesia

[Locusonline.co] Rp500 ribu per bulan—angka yang terdengar nyaris mustahil untuk bertahan hidup di kota besar Indonesia. Namun bagi Syahrul Ramadan (29), mahasiswa asal Surabaya, itulah realitas yang ia jalani sehari-hari selama menempuh studi di Iran. Di tengah citra negara yang kerap dilabeli “mengerikan”, ia justru menemukan kehidupan yang sederhana, tenang, dan bersahabat bagi kantong pelajar.

Bayangan tentang Iran selama ini lekat dengan konflik geopolitik, ketegangan militer, dan relasi panas dengan Amerika Serikat. Apalagi, eskalasi situasi pada awal 2026 sempat kembali menguatkan persepsi tersebut. Namun bagi Syahrul, realitas yang ia hadapi jauh dari gambaran itu.

tempat.co

“Kalau tidak melihat langsung, mungkin saya juga akan berpikir sama,” ujarnya, merujuk pada stigma yang selama ini beredar.

Hidup Hemat, Bukan Sekadar Bertahan

Syahrul mengaku biaya hidup bulanannya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Angka itu mencakup kebutuhan pokok sehari-hari, transportasi, hingga utilitas dasar. Dibandingkan dengan Jakarta atau kota besar lain di Indonesia, jumlah tersebut hanya sepersekian kecil.

Rahasia di balik biaya hidup yang rendah itu terletak pada kebijakan subsidi besar-besaran yang diterapkan pemerintah Iran. Negara tersebut dikenal memiliki cadangan energi melimpah, yang kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk harga murah untuk listrik, bahan bakar, hingga kebutuhan pangan.

Untuk listrik, misalnya, Syahrul menyebut tagihan bulanan nyaris tidak terasa. Dalam satu kontrakan yang dihuni beberapa orang, biaya listrik hanya berkisar belasan ribu rupiah untuk dua bulan pemakaian.

“Dibagi tiga orang, jatuhnya mungkin cuma Rp2 ribuan per bulan per orang,” katanya.

Energi Murah, Mobilitas Mudah

Harga energi yang rendah berdampak langsung pada biaya transportasi. Di Iran, harga bensin bersubsidi hanya sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per liter. Kondisi ini membuat tarif transportasi umum ikut terjangkau.

Di ibu kota Tehran, biaya sekali naik bus atau metro bahkan tidak jauh dari harga air mineral kemasan di Indonesia. Dengan ongkos yang murah, mahasiswa seperti Syahrul dapat beraktivitas tanpa harus mengkhawatirkan pengeluaran berlebih.

Tak hanya itu, stabilitas pasokan listrik juga menjadi nilai tambah. Ia mengaku jarang mengalami pemadaman listrik, meskipun penggunaan daya cukup tinggi.

Antara Stigma dan Realitas

Keputusan Syahrul untuk melanjutkan studi di Iran sempat dianggap “nekat” oleh sebagian orang. Namun, bagi dirinya, pilihan itu justru rasional. Selain biaya hidup yang rendah, Iran juga menawarkan kualitas pendidikan yang cukup baik, terutama di bidang teknik, kedokteran, dan studi keagamaan.

Pengalaman ini memperlihatkan adanya jarak antara persepsi global dan realitas di lapangan. Apa yang sering tampil di layar berita tidak selalu mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa risiko tetap ada. Situasi geopolitik Iran yang dinamis membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi warga negara asing. Pada beberapa momen, ketegangan regional bahkan sempat memicu evakuasi pelajar dari negara tertentu.

Namun di kota-kota besar seperti Tehran dan Isfahan, kehidupan sehari-hari relatif berjalan normal.

Belajar dari Realitas yang Berbeda

Bagi Syahrul, pengalaman tinggal di Iran bukan sekadar soal bertahan hidup dengan biaya minim. Lebih dari itu, ia belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda—bahwa sebuah negara tidak bisa dinilai hanya dari satu narasi.

“Di sini saya justru bisa fokus belajar, tanpa terlalu terbebani biaya hidup,” ujarnya.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa stigma seringkali lahir dari jarak dan informasi yang terbatas. Di balik label “negara konflik”, ada realitas lain yang mungkin tak banyak diketahui—tentang kehidupan yang berjalan biasa saja, tentang masyarakat yang ramah, dan tentang peluang yang terbuka bagi siapa saja yang berani melihat lebih dekat. (**)

sumber: mojok.co

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow