LifestyleNasionalNews

Film Horor “Aku Harus Mati”: Jumpscare Rapat, Kritik Pinjol Lebih Nempel dari Hantu

bhegins
×

Film Horor “Aku Harus Mati”: Jumpscare Rapat, Kritik Pinjol Lebih Nempel dari Hantu

Sebarkan artikel ini
G2yfR1rZ6m
Foto Istimewa

LOCUSonline, JAKARTA – Di tengah banjir film horor yang sering kali hanya mengandalkan teriakan mendadak dan lampu mati mendadak, film Aku Harus Mati mencoba tampil sedikit “lebih niat” menakut-nakuti penonton sekaligus menampar realitas sosial dimana utang pinjaman online tak kalah seram dari hantu.

Perwakilan produser dari Rollink Action, Iwet Ramadhan, secara terbuka mengakui bahwa film ini memang dirancang untuk membuat penonton tidak sempat bernapas lega.

tempat.co

“Jumpscare-nya rapat. Karena kami memang ingin membuat film horor yang benar-benar horor,” ujar Iwet dalam konferensi pers, Sabtu (4/4/2026).

Namun di balik strategi “kaget tiap menit”, film ini tidak berhenti pada urusan teror visual. Produser menyisipkan misi yang terdengar lebih serius dalam menyelipkan kritik sosial tanpa harus terlihat seperti ceramah berkedok layar lebar.

Menurut Iwet, film ini lahir dari kegelisahan terhadap fenomena pinjaman online (pinjol) dan budaya “butuh pengakuan” yang makin mengakar di masyarakat. Dalam bahasa yang lebih lugas bukan sekadar takut hantu, tapi takut cicilan.

“Banyak orang terjebak pinjol bukan karena kebutuhan, tapi karena tekanan sosial. Demi terlihat keren, demi validasi,” katanya.

Tagline film ini, “Jual Jiwa Demi Harta”, seolah tidak lagi metaforis. Ia menjadi refleksi kondisi nyata ketika utang digital dan gaya hidup saling berkelindan, dan konsekuensinya bisa lebih menghantui daripada sosok tak kasat mata.

Menariknya, fenomena ini oleh tim produksi ditarik lebih jauh ke akar budaya lokal. Praktik pesugihan yang dulu identik dengan dunia mistis kini “berevolusi” menjadi pinjol dan paylater tetap sama-sama mengikat, hanya beda platform.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow