Pihak Dinkes Garut mengaku terus menelusuri dengan melakukan tracking dan tracing sampai ditemukan siapa dan dimana serta kontaknya kemana saja, sehingga orang penderita positif HIV bisa ditemukan sebanyak 240 orang. Pendataan dilakukan secara online melalui sistem SIHA (Sistem Informasi HIVS Aids).
“Di tahun 2022 angka kematian HIV cukup tingi karena dampak dari Pandemi Covid-19, jumlah kematian mencapai 61 orang dan ditahun 2023 angka kematian menurun menjadi 21 orang,” katanya.
Ketika ditanya tentang jumlah pejabat di lingkungan Pemkab Garut yang diduga positif Dr. Asep Surahman enggan menjawabnya, dengan alasan dirinya tidak bisa menduga-duga dan harus melihat data yang akurat. Diapun menjanjikana akan mengirimkan data itu kepada wartawan.
Anggaran Penanganan HIV Aids Hampir Mencapai Rp 700 Juta
Salah satu pejabat yang pernah menjadi kandidat Calon Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut ini mengaku anggaran penanganan HIV Aids digelontorkan sebanyak dua kali. Yang pertama Rp 275 juta, nilai anggaran dianggap kurang padahal penanganan HIV Aids merupakan amanat SPM (Standar Pelayanan Minimal), tetapi karena kondisi dan kemampuan daerah segitu adanya, maka pihak Dinkes Garut tetap memaksimalkan agar bisa menggenjot capaian.
Pada pertengahan bulan September 2023 anggaran untuk penanganan kasus HIV di Garut sudah hampir habis, maka pihaknya mengusulkan ke Sekdis dan Kadis Kesehatan untuk mengucurkan anggaran tambahan dan alhamdulillah direalisasi sebanyak Rp 125 juta dan bisa mengejar target hingga 70.000 lebih orang berhasil diperiksa,” urainya.

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues













