Pada penjelasannya, Asep Surahman menegaskan, cara lain yang digunakan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut adalah melakukan evaluasi. Secara rutin setiap Puskesmas dimintai data tentang pelaksanaan pemeriksaan dan setiap 3 bulan Puskesmas dikumpulkan dan mengundang pihak tertentu seperti rumah sakit dan puskesmas untuk memeriksa data. “Lalu kita diskusikan apa saja kendala di lapangan,” ungkapnya.
Cara selanjutnya, sambung Asep Surahman, karena penanganan HIV tidak mungkin hanya menggunakan Puskesmas PDP, maka Dinkes Garut meminta setiap rumah sakit untuk OJT. Rumah sakit pemerintah dan swasta termasuk di RS milik TNI. “Dan ternyata ada yang positif HIV di rumah sakit tersebut. Maka kita lakukan pelatihan OJT. Ini strategi Dinkes dengan minimnya anggaran yang disediakan pemerintah,” terangnya.
Tidak hanya sampai disitu, Asep Surahman mengatakan, pihaknya juga melakukan Mobile Visiting atau tidak mengandalkan puskesmas saja. Pihaknya juga mendatangi Lapas (lembaga pemasyarakatan) untuk melakukan pemeriksaan kepada setiap tahanan.
Perjalanan dinas ke Provinsi yang dilakukan satu bulan sekali, untuk mengambil kebutuhan medis habis pakai, konsultasi program dan pelaksanaan Hari Aids se dunia yang dilaksanakan setiap 1 Desember. “Dan Dinkes Garut melaksanakan peringatan Hari Aids se dunia tanggal 13 Desember 2023. Untuk efektifitas anggaran saya kira bisa study banding ke kabupaten/kota yang lain,” terangnya. (asep ahmad)
(Asep Ahmad)

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues













