Menghadapi situasi tersebut, mahasiswa memilih jalur yang jarang ditempuh birokrasi: diplomasi wilayah. Dengan menggandeng Kecamatan Wanaraja, mereka berhasil meminjam satu unit truk pengangkut sampah untuk melakukan pembersihan besar-besaran sebelum pembangunan TPS dimulai.
Pembangunan TPS Komunal dilakukan bersama SMK Kiansantang dan warga setempat. Bangunan ini bukan asal jadi. TPS dirancang dengan dinding hebel, atap baja ringan dan spandek, dua bilik berkapasitas total 4 x 2 meter, serta standar higienis untuk menekan bau dan mencegah hewan pembawa penyakit.
Proyek ini dijalankan dengan anggaran Rp 7.585.000 yang dikelola secara terbuka, mencakup material bangunan, tenaga kerja ahli, hingga kegiatan edukasi masyarakat. Transparansi anggaran pun menjadi nilai tambah, sesuatu yang sering digaungkan, namun jarang dipraktikkan di lapangan.
“Harapannya, dengan adanya TPS, kebersihan dan kesehatan lingkungan meningkat. Warga bisa membuang sampah pada tempatnya, bukan di sungai atau pinggir jalan,” ujar Tatang Kuswandi, Kepala Dusun Desa Sukaluyu.
Tak berhenti di TPS, mahasiswa juga melakukan “operasi estetika lingkungan” di RW 01. Lokasi bekas pembuangan sampah liar di pinggir jalan disulap menjadi taman mini. Langkah ini disebut sebagai intervensi psikologi sosial mengubah tempat kumuh menjadi ruang hijau agar warga merasa sungkan mengotori kembali.
“Kami menyediakan infrastruktur lewat TPS dan edukasi lewat taman mini. Dukungan pemerintah desa dan partisipasi warga jadi kunci keberlanjutan,” ujar salah satu mahasiswa pelaksana program.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












