[Locusonline.co] Bandung – Di tengah laju modernisasi dan kompleksitas persoalan kota, sebuah seruan untuk menjaga inti identitas budaya justru mengemuka. Farhan, dalam sambutannya pada Pagelaran Seni Wanda Sunda di El Hotel Bandung, Sabtu (17/1/2026) malam, dengan lantang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merawat akar budaya sebagai fondasi Kota Bandung yang tak tergantikan.
Acara yang menghadirkan karya-karya seni Sunda klasik hingga kontemporer ini menjadi ruang refleksi yang tepat. Farhan menyatakan bahwa di tengah hiruk-pikuk perubahan, ia bersyukur karena estafet menjaga kebudayaan terus dipegang teguh oleh para pelaku budaya.
Seniman, Akademisi, dan Pegiat Budaya
Farhan menyampaikan penghargaan yang mendalam kepada para penjaga warisan leluhur. “Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih karena telah membantu menjaga warisan leluhur kita. Karya seni dan budaya yang indah ini selalu hadir dan terus menginspirasi,” ucapnya.
Ia secara khusus menyoroti peran strategis dunia akademik. Menurut Farhan, peran akademisi dalam mengkaji, mendokumentasikan, dan memberikan konteks historis-filosofis adalah kunci. Kajian akademis memberikan peta bagi masyarakat untuk memahami dari mana suatu ekspresi budaya berasal, apa maknanya, dan ke mana arah pengembangannya di masa depan. Sinergi antara seniman sebagai kreator, akademisi sebagai pemikir, dan pegiat budaya sebagai eksekutor di lapangan dinilainya sebagai rumusan ideal pelestarian budaya yang dinamis.
Budaya sebagai Perekat di Setiap Zaman
Dalam pidatonya, Farhan melakukan kilas balik perjalanan panjang Kota Bandung yang penuh transformasi. Kota ini telah melewati berbagai fase besar: masa kosmopolitan awal abad ke-20, gejolak revolusi pertengahan abad, kemapanan era 80-90an, hingga dinamika dan ‘guncangan’ abad ke-21 yang ditandai dengan disrupsi di berbagai bidang.
“Hal yang menarik, setiap perubahan itu tidak pernah lepas dari akar budaya yang kuat. Bandung selalu punya nilai-nilai kebudayaan yang mengikat bahkan bagi mereka yang bukan lahir di sini,” tegas Farhan.
Pernyataan ini ia buktikan dengan pengalaman personalnya. Meski lahir di Bogor, Farhan mengaku merasa disambut dan dibentuk oleh akar budaya Bandung sejak menetap pada 1975. Ikatan kultural inilah, menurutnya, yang mampu menjadi perekat sosial yang lebih kuat daripada sekadar kesamaan domisili.
Ekosistem Budaya yang Unik dan Padat
Farhan juga memberikan analisis terhadap kondisi Bandung kontemporer. Dengan kepadatan penduduk yang mencapai sekitar 15.000 jiwa per kilometer persegi, Bandung telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem pemikiran dan budaya yang unik.
Keunikan ini lahir dari proses asimilasi yang kaya di tiap wilayah. Karakter dan platform ekspresi budaya di Bandung Utara, Selatan, Timur, dan Barat memiliki nuansanya masing-masing, namun tetap merupakan bagian dari mozaik besar Budaya Bandung. Keragaman inilah yang memperkaya dan memperkuat karakter kota.
Mengakhiri sambutannya, Farhan mengajak seluruh hadirin untuk merayakan malam itu tidak hanya sebagai pagelaran seni, tetapi sebagai perayaan atas akar budaya warga Kota Bandung.
“Marilah kita rayakan malam ini sebagai perayaan akar warga Kota Bandung. Akar inilah yang akan terus tumbuh dan menjadi dasar kebudayaan Bandung yang khas dan berkarakter kuat hingga masa-masa mendatang,” pungkasnya.
Pidato Farhan ini menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan perkotaan modern seperti kepadatan, perubahan sosial, dan guncangan teknologi, merawat identitas budaya bukanlah langkah mundur, melainkan strategi untuk tetap memiliki pondasi yang kokoh sambil terus bergerak maju. (**)













