Dalam narasi resminya, kegiatan ini disebut sebagai upaya menghadirkan kebahagiaan Lebaran yang lebih luas dan inklusif. “Lebaran kali ini bukan hanya tentang tradisi, tapi tentang kebersamaan,” demikian disampaikan melalui akun resmi.
Namun di balik kemeriahan itu, satu pertanyaan tetap bertahan: dari mana semua ini dibiayai? Di saat sembako, makanan, dan hadiah dibagikan dengan angka yang jelas, sumber anggaran justru tampil sebagai satu-satunya komoditas yang belum diberi label.
Barangkali, dalam semangat pasar murah, transparansi pun sedang ikut “promo terbatas”.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










