[Locusonline.co] Purwakarta – Aura bahagia yang seharusnya menyelimuti sebuah pesta pernikahan di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, berubah menjadi duka paling kelam. Sang ayah sekaligus tuan rumah yang bertindak sebagai wali nikah, Dadang, tewas setelah dikeroyok oleh sekelompok preman di depan tenda resepsi, Sabtu (4/4/2026).
Suasana haru yang bercampur histeria pecah di lokasi kejadian. Di tengah kerumunan tamu yang panik, pengantin wanita yang masih serba putih lengkap dengan kebaya hanya bisa terpaku, menyaksikan sang ayah tercinta ambruk bersimbah darah di depan matanya.
Dari Pungli Rp100 Ribu Menjadi Tragedi Maut
Insiden memilukan ini dipicu oleh aksi pemerasan yang dilakukan sekelompok pemuda setempat. Wahyudin, adik korban, menceritakan betapa tragisnya rangkaian kejadian yang berakhir dengan hilangnya nyawa sang kakak.
“Awalnya saya dimintai uang, semacam pungutan liar. Di permintaan pertama, kami masih memberi Rp100 ribu,” tutur Wahyudin dengan nada getir saat memberikan keterangan di Mapolres Purwakarta, Sabtu malam.
Para pelaku yang diduga komplotan preman tersebut datang dengan modus meminta “uang keamanan” di tengah acara berlangsung. Sayangnya, ketamakan mereka tak berhenti di situ. Hanya berselang satu jam, mereka kembali hadir dengan tuntutan yang jauh lebih besar.
“Mereka minta lagi, kali ini Rp500 ribu. Kakak saya dengan tegas menolak,” lanjut Wahyudin.
Penolakan tegas Dadang terhadap pemerasan itulah yang menjadi pemicu utama kekacauan. Para pelaku yang tidak terima langsung mengamuk dan memicu keributan.
Dikeroyok di Depan Tenda
Keributan yang dimulai dari dalam tenda cepat merambat ke luar area. Di sanalah Dadang dikepung dan dianiaya secara brutal oleh gerombolan preman.
“Begitu tidak dikasih uang, mereka langsung mengamuk. Kakak saya dikeroyok tiga orang, sementara saya sendiri dipukuli oleh sekitar delapan orang,” jelas Wahyudin yang juga ikut menjadi korban pemukulan saat berusaha menolong kakaknya.
Puncak kekejaman terjadi ketika para pelaku menghantamkan sebuah benda tumpul ke bagian kepala Dadang. Petugas kepolisian yang datang ke lokasi kemudian menemukan barang bukti yang mengerikan.
“Kami menemukan barang bukti belahan bambu yang diduga dipakai memukul kepala korban hingga ia kehilangan kesadaran. Terkait penyebab pasti kematiannya, kami masih menunggu proses autopsi,” ujar Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi.
Istrinya Pingsan, Sang Pengantin Terpaku
Kekacauan yang terjadi di depan mata membuat situasi di dalam pesta berubah menjadi huru-hara. Para tamu yang kaget berlarian menyelamatkan diri.
“Ada dua orang perempuan yang pingsan, yaitu istri korban dan putrinya yang merupakan pengantin wanita,” ungkap Enjang.
Sang pengantin yang seharusnya menjadi pusat kebahagiaan justru harus mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya. Di Mapolres Purwakarta, ia masih terduduk lemas dengan balutan kebaya pengantin yang belum sempat diganti, menanti keadilan untuk sang ayah yang tewas demi menjaga kehormatan keluarga.
Polisi Buru Pelaku, Motif Masih Diselidiki
Pihak kepolisian dari Polres Purwakarta terus bergerak cepat. Mereka mengonfirmasi bahwa kejadian ini diduga sengaja dipicu oleh sekelompok orang yang hendak melakukan pemerasan di lokasi hajatan.
“Dugaannya ada sekelompok orang yang sengaja memicu keributan di acara tersebut, yang kemudian berujung pada aksi pemukulan fatal hingga korban pingsan dan meninggal dunia,” ujar Enjang.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang identitasnya telah dikantongi. Rumah sakit pun masih dalam proses autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian Dadang akibat luka di bagian kepala. (**)














