LOCUSONLINE, GARUT – Masalah sampah di perdesaan yang selama ini lebih sering dipelajari dalam seminar daripada diselesaikan di lapangan, akhirnya menemukan jalan keluar bukan lewat rapat berlapis, melainkan lewat sepatu kotor mahasiswa. Melalui program KKN Gradasi 2025, kolaborasi lintas kampus berhasil menghadirkan solusi nyata pengelolaan sampah di Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut.
Empat perguruan tinggi di Garut Sekolah Tinggi Hukum Garut (STHG), STIKES Karsa Husada, Institut Teknologi Garut (ITG) dan Universitas Garut (UNIGA) turun bersama, membawa keahlian lintas disiplin dari hukum, kesehatan, teknologi hingga ekonomi. Hasilnya, sebuah Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) Komunal berdiri, bukan sekadar proyek KKN musiman, melainkan terhubung langsung dengan kebijakan daerah.
TPS ini dirancang untuk mendukung Program Kampung Ramah Lingkungan (KANG RALING) yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut. Tujuan utamanya adalah menyediakan fasilitas infrastruktur yang layak dan higienis guna mengatasi masalah penumpukan sampah liar serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang terstruktur. Program ini menjadi fondasi bagi Desa Sukaluyu untuk mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, bersih, dan berkelanjutan.
Baca Juga :
Tambang Disetop, Sawah Disulap Pabrik: Garut Rajin Tutup Pasir, Pelan Kejar Beton
Berdasarkan observasi di RW 06 dan RW 01, tim KKN menemukan penumpukan sampah liar yang sudah berlangsung lama. Dampaknya bukan hanya pemandangan tak sedap, tetapi juga polusi udara dan potensi penyakit. Ironisnya, Desa Sukaluyu belum terjangkau jalur pengangkutan sampah resmi dari DLH, membuat sampah setia menumpuk tanpa jadwal jemput.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












