Penanganan jenazah dalam tragedi longsor Cisarua dilakukan dengan sangat hati-hati, mengutamakan akurasi dan martabat kemanusiaan, meskipun data statistik dari berbagai pihak menunjukkan perbedaan yang wajar dalam situasi darurat ini.
[Locusonline.co] Bandung Barat – Operasi pencarian dan evakuasi korban tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki fase yang memilukan namun kritis. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah menerima 16 kantong jenazah, di mana proses identifikasi yang teliti dan berbelas kasih telah berhasil mengembalikan identitas tujuh korban kepada keluarganya. Proses ini masih berlanjut untuk sembilan jenazah lainnya, sementara operasi penyelamatan secara besar-besaran terus digelar untuk menemukan puluhan warga yang masih hilang.
Bencana yang terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 03.00 WIB di Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda, Desa Pasirlangu, ini merupakan peristiwa alam yang dahsyat. Seorang saksi mata, Wahyu, menggambarkan momen menegangkan sebelum longsor: suara gemuruh keras dari arah perbukitan yang kemudian disusul gerakan tanah besar.
Data Korban: Situasi yang Masih Bergerak Dinamis
Data korban terus mengalami pembaruan seiring intensifikasi operasi pencarian oleh tim gabungan yang melibatkan ratusan personel. Hingga Minggu sore, 25 Januari 2026, berbagai sumber melaporkan angka yang masih berfluktuasi—suatu hal yang wajar dalam situasi darurat bencana skala besar. Berikut ringkasan perkembangan terbaru:Aspek Data Terkini (per 25-26 Januari 2026) Sumber & Keterangan Total Jiwa Terdampak 113 jiwa (34 Kepala Keluarga) Dampak langsung. Korban Meninggal (Ditemukan) 16 kantong jenazah diterima DVI (BNPB: 25 kantong) Perbedaan angka mungkin karena proses administrasi dan waktu laporan. Korban Teridentifikasi 7 orang telah dipastikan identitasnya. Melalui pemeriksaan medis forensik dan pencocokan data. Korban Belum Ditemukan 81-83 orang masih dalam pencarian. Operasi SAR masih berlangsung intensif. Korban Selamat 23 orang berhasil diselamatkan. Telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan.
Identitas ketujuh korban yang telah berhasil dikembalikan kepada keluarganya adalah: Suryana (57), Jajang Tarta (35), Nining (40), Dadang Apung (60), Nurhayati (42), M. Kori (30), dan Lina Lismayanti (43). Mereka terdiri dari warga dengan rentang usia produktif hingga lanjut usia.
Proses identifikasi jenazah korban bencana yang seringkali mengalami kondisi yang tidak utuh merupakan tugas yang sangat kompleks dan membutuhkan kehati-hatian tinggi. Tim DVI Polda Jabar, yang terdiri dari tenaga medis dan ahli forensik, menjalankan protokol berlapis untuk memastikan akurasi.
- Pemeriksaan Medis Forensik: Dilakukan secara menyeluruh pada jenazah yang kondisi fisiknya memungkinkan.
- Pencocokan Data Ante Mortem: Tim mengumpulkan data ciri-ciri fisik, riwayat kesehatan, dan informasi pribadi dari keluarga korban untuk dicocokkan.
- Pengambilan Sampel DNA: Untuk jenazah yang belum teridentifikasi melalui pemeriksaan visual, sampel DNA diambil. Sampel ini kemudian dicocokkan dengan DNA keluarga yang melapor. Jenazah yang belum teridentifikasi untuk sementara disimpan di RSUD Cibabat, Cimahi, untuk menjaga kondisi mereka selama proses identifikasi lanjutan.
- Verifikasi Akhir: Hasil identifikasi divalidasi bersama keluarga korban sebelum dipastikan.
Kombes Pol. Hendra Rochmawan, Kabid Humas Polda Jabar, menegaskan bahwa seluruh proses ini mengutamakan prinsip kehati-hatian dan kemanusiaan, serta didukung teknologi mutakhir untuk meminimalisasi kesalahan dan mengembalikan jenazah kepada keluarga yang tepat dengan bermartabat.
Operasi SAR Skala Besar dan Penanganan Pengungsi
Sementara tim DVI bekerja, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban yang masih hilang berlangsung tanpa henti. Basarnas mengerahkan sekitar 250 personel terlatih dari berbagai unsur, didukung sekitar 450 personel pendukung. Operasi ini diperkuat dengan teknologi, termasuk 12 unit drone untuk pemantauan udara, serta anjing pelacak (K9) dari TNI dan Polri.
Di sisi lain, penanganan para penyintas dan pengungsi juga menjadi prioritas. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menyiapkan bantuan tunai sebesar Rp10 juta per Kepala Keluarga untuk biaya hunian sementara dan kebutuhan hidup selama dua bulan. Pos-pos kesehatan juga disiagakan di lokasi pengungsian untuk memantau kondisi kesehatan warga dan mencegah munculnya penyakit pascabencana.
Peringatan Dini dan Langkah Antisipasi
Bencana ini juga menyisakan duka mendalam bagi institusi kepolisian. Dua anggota Polsek Cisarua, Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery, gugur dalam tugas setelah mengalami kecelakaan lalu lintas saat hendak menuju lokasi bencana. Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para penolong di medan yang sulit.
Pihak berwenang juga mengingatkan ancaman longsor susulan. Kondisi cuaca dan struktur tanah yang labil pasca-bencana membuat kawasan sekitar masih berbahaya. BMKG memperingatkan potensi hujan lebat yang dapat memperparah risiko. Oleh karena itu, akses masyarakat ke zona bencana tetap dibatasi ketat untuk keselamatan.
Kunjungan dan arahan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke lokasi bencana pada Minggu, 25 Januari, turut menekankan pentingnya penanganan menyeluruh. Beliau memerintahkan investigasi mendalam terkait dugaan alih fungsi lahan di kawasan lereng yang diduga menjadi salah satu pemicu bencana, sekaligus menekankan pentingnya pendampingan intensif bagi korban.
Proses evakuasi dan identifikasi di Cisarua masih panjang. Setiap jenazah yang berhasil dikembalikan identitasnya adalah sebuah langkah menuju kelegaan bagi keluarga yang berduka. Sementara itu, harapan untuk menemukan korban yang hilang masih menyala, didukung oleh kerja keras tanpa lelah dari semua pihak di lapangan. (**)













