“BPS mencatat awal tahun 2026 di Jawa Barat diwarnai paradoks: harga pangan makin ramah di banyak daerah, sementara di Bekasi, biaya berobat justru terasa makin “premium”.”
LOCUSONLINE, BANDUNG – Harga-harga di Jawa Barat kompak menunduk di awal 2026. Hampir seluruh kabupaten dan kota tercatat mengalami deflasi bulanan, seolah ekonomi sedang tarik napas bersama. Namun satu daerah memilih jalur berbeda, Kota Bekasi justru melaju dengan inflasi 0,07 persen, dipicu antara lain oleh lonjakan tarif rumah sakit.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat, Ninik Anisah, menjelaskan Bekasi menjadi pengecualian di tengah tren penurunan harga. Selain faktor emas, kenaikan biaya layanan rumah sakit swasta disebut ikut mendorong inflasi di kota penyangga ibu kota tersebut.
“Kalau daerah lain relatif seragam, Bekasi justru bergerak naik. Tarif rumah sakit swasta mengalami kenaikan, sementara komoditas lain tidak jauh berbeda dibanding daerah lain,” kata Ninik di Bandung, Senin.
Data BPS menunjukkan mayoritas daerah di Jawa Barat mengalami deflasi dengan besaran bervariasi. Kota Bogor mencatat penurunan 0,21 persen, disusul Kota Sukabumi 0,03 persen, Kota Bandung 0,09 persen, Kota Cirebon 0,44 persen, dan Kota Depok 0,16 persen.
Baca Juga : Upah Ditandatangani: Buruh Ditinggal-Gubernur Jalan Sendiri
Tren serupa terjadi di Kota Tasikmalaya yang mengalami deflasi 0,05 persen, Kabupaten Bandung 0,15 persen, Kabupaten Subang 0,21 persen, serta Kabupaten Majalengka 0,11 persen.
Secara agregat, Jawa Barat mencatat deflasi sebesar 0,09 persen secara bulanan. Penurunan harga bahan kebutuhan pokok menjadi penopang utama kondisi tersebut.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












