Bandung

Wings Air Buka Rute Harian Bandung–Yogyakarta, Sinyal Kebangkitan Bandara Husein

rakyatdemokrasi
×

Wings Air Buka Rute Harian Bandung–Yogyakarta, Sinyal Kebangkitan Bandara Husein

Sebarkan artikel ini
Wings Air Buka Rute Harian Bandung–Yogyakarta, Sinyal Kebangkitan Bandara Husein locusonline featured image Feb

[Locusonline.co] Bandung – Sebuah pesawat Wings Air berkapasitas 22 penumpang lepas landas dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Rabu pagi (11/2), menuju Yogyakarta International Airport (YIA). Penerbangan perdana rute Bandung–Yogyakarta ini menjadi titik terang baru bagi kebangkitan bandara kebanggaan warga Kota Bandung yang selama bertahun-tahun nyaris mati suri.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyaksikan langsung momen bersejarah tersebut dan memastikan bahwa penerbangan ini akan berlangsung setiap hari. Langkah ini diharapkan menjadi awal dari pemulihan konektivitas udara Bandung yang lebih luas.

tempat.co

“Alhamdulillah, kita menyaksikan bersama penerbangan yang sangat lancar membawa 22 penumpang dari Bandung ke YIA. Penerbangan ini akan berlangsung setiap hari. Mudah-mudahan ini menjadi lanjutan dari kemampuan kita menangkap permintaan masyarakat yang makin tinggi untuk terbang dari Husein Sastranegara ke berbagai tujuan di Indonesia,” ujar Farhan penuh optimisme.

Dari 3,8 Juta ke 4.000: Pekerjaan Rumah yang Besar

Farhan tidak menutup mata pada realitas pahit yang harus dihadapi. Ia mengungkapkan data yang menjadi pengingat sekaligus target:

TahunJumlah Penumpang/TahunKeterangan
2019 (Prapandemi)3,8 jutaTermasuk 800 ribu penumpang internasional.
2025±48.000 (4.000/bulan)Turun drastis hingga 98,7% dari masa kejayaan.

“Potensi sebesar itu harus kita kembalikan. Saat ini, jumlah penumpang per bulan pada 2025 kemarin masih sekitar 4.000 orang. Artinya, kita masih punya pekerjaan besar untuk mengejar peningkatan signifikan,” tegasnya.

Ekosistem Penerbangan: Kunci Membuka Gerbang Investasi

Yang membedakan pendekatan Pemkot Bandung kali ini adalah kesadaran bahwa penerbangan tidak berdiri sendiri. Farhan menekankan pentingnya membangun kembali ekosistem penerbangan secara utuh, bukan sekadar membuka rute.

“Tugas kami adalah menghidupkan dan menjaga ekosistem. Kalau ekosistemnya hidup, investor swasta akan masuk. Ketika itu terjadi, kami berharap pemerintah pusat dan provinsi bisa menangkap peluang ini bersama-sama,” ujarnya.

Kesiapan ekosistem ini ditopang oleh tiga pilar utama:

  1. Infrastruktur Pendukung – Telah diselesaikannya Jalan Layang Nurtanio oleh Kementerian PUPR dan Menko Infrastruktur, menjadikan kawasan bandara sebagai Transit Oriented Development (TOD) yang terintegrasi.
  2. Kesiapan Pengelola – General Manager Angkasa Pura Indonesia Bandara Husein Sastranegara, Granito Wahyu, menegaskan kesiapan operasional dan teknis bandara.
  3. Aksesibilitas & Lalu Lintas – Pemkot Bandung memastikan arus lalu lintas di sekitar bandara berjalan tertib dan lancar.

Target Jangka Panjang: Mengembalikan 11 Rute Domestik dan 3 Rute Internasional

Farhan tidak hanya berhenti pada rute Yogyakarta. Ia membidik target ambisius: mengembalikan kejayaan Bandara Husein seperti sebelum pandemi. Daftar destinasi yang diharapkan dapat kembali dilayani meliputi:

Domestik (11 destinasi):
Medan, Palembang, Lampung, seluruh Jawa, Bali, Balikpapan, hingga Sulawesi Selatan.

Internasional (3 destinasi):
Singapura, Kuala Lumpur, dan Johor Bahru.

Namun demikian, Farhan realistis bahwa perluasan rute sangat bergantung pada keputusan operator penerbangan swasta dan perizinan Kementerian Perhubungan. Peran Pemkot adalah menciptakan iklim yang kondusif dan membuktikan bahwa Bandung adalah pasar yang menguntungkan.

Dari Bandara Militer ke Hub Penerbangan Komersial?

Sejak alih fungsi dan pembatasan operasional akibat statusnya sebagai pangkalan udara militer, Bandara Husein Sastranegara mengalami penurunan drastis. Hanya pesawat jenis propeller dengan rute terbatas di Jawa yang diizinkan beroperasi.

Namun, dengan mulai beroperasinya Wings Air dan dukungan infrastruktur yang memadai, momen kebangkitan ini perlu dikapitalisasi dengan strategi yang tepat:

  1. Buktikan Profitabilitas – Rute Bandung–Yogyakarta harus sukses secara komersial. Load factor yang tinggi akan menjadi sinyal bagi maskapai lain untuk masuk.
  2. Diversifikasi Maskapai – Setelah Wings Air, targetkan maskapai lain seperti Citilink, Nam Air, atau bahkan Batik Air untuk membuka rute serupa atau baru.
  3. Advokasi Regulasi – Pemkot perlu terus berdiplomasi dengan Kementerian Perhubungan dan TNI AU untuk kemungkinan perluasan jenis pesawat atau rute di masa depan.
  4. Integrasi dengan Destinasi Wisata – Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata untuk menciptakan paket perjalanan yang menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Penerbangan perdana Wings Air rute Bandung–Yogyakarta bukan sekadar seremoni. Ia adalah deklarasi bahwa Bandung tidak akan menyerah pada keterpurukan bandaranya. Dengan 22 penumpang pertama, sebuah perjalanan panjang dimulai.

Optimisme Granito Wahyu dari Angkasa Pura menjadi penutup yang tepat: “Ke depan kami ingin Kota Bandung bisa dilayani pesawat yang lebih besar, sehingga konektivitas semakin baik dan berdampak pada peningkatan pariwisata serta nilai ekonomi bagi masyarakat.”

Untuk mencapai mimpi itu, seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, operator bandara, maskapai, dan masyarakat pengguna—harus terus menjaga api ekosistem ini tetap menyala. Karena bandara yang hidup bukan hanya menghubungkan kota, tetapi menghidupkan denyut ekonominya. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow