[Locusonline.co] BANDUNG – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik dan infrastruktur, Pemerintah Kota Bandung memastikan bahwa nilai-nilai spiritual dan kerukunan antarumat beragama tidak menjadi sektor yang terpinggirkan. Memasuki satu tahun implementasi visi Bandung Utama (Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, Agamis) , penguatan di bidang keagamaan dan toleransi menjadi fondasi penting dalam membangun karakter sosial masyarakat yang inklusif dan harmonis.
Melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah, Pemkot Bandung secara konsisten menjalankan program-program strategis yang tidak hanya menyentuh aspek ritual keagamaan, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah kemajemukan warga kota.
Kepala Bagian Kesra Setda Kota Bandung, Nasrulloh Jamaluddin, menegaskan bahwa program keagamaan menjadi prioritas dalam mendukung arah pembangunan daerah. “Kesra menjadi penghubung dan fasilitator agar kebijakan keagamaan berjalan selaras dengan visi pimpinan. Program ini bertujuan memperkuat pembinaan mental spiritual sekaligus membangun hubungan sosial yang sehat di masyarakat,” ujarnya.
Sinergi Lintas Institusi untuk Pembinaan yang Menyeluruh
Pelaksanaan program keagamaan dilakukan melalui sinergi erat dengan Kementerian Agama Republik Indonesia di tingkat kota. Kolaborasi ini memastikan pembinaan keagamaan berjalan efektif dan menjangkau berbagai kelompok masyarakat, mulai dari aparatur sipil negara, tokoh agama, hingga masyarakat akar rumput.
Sepanjang satu tahun terakhir, berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan secara konsisten. Di antaranya adalah pengajian rutin bagi ASN lintas agama, Safari Jumat yang menjadi sarana pendekatan pimpinan daerah dengan masyarakat, bimbingan teknis pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, pelatihan dai, hingga program sosial keagamaan seperti khitan massal.
Merawat Toleransi, Membangun Kampung Damai
Komitmen menjaga kerukunan antarumat beragama diwujudkan melalui safari keagamaan pimpinan daerah pada setiap momentum hari besar keagamaan. Wali Kota dan jajaran secara rutin mengunjungi berbagai rumah ibadah—masjid, gereja, vihara, hingga klenteng—sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman dan komitmen menjaga persaudaraan lintas iman.
Sejak Desember 2024, Pemkot Bandung juga memulai tradisi doa bersama lintas agama yang digelar pada 10 hari terakhir setiap akhir tahun. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan berbagai agama sebagai simbol kebersamaan dan penguatan nilai toleransi. Tradisi ini mendapat dukungan penuh dari para tokoh agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) , yang selama ini berperan aktif menjaga keharmonisan hubungan antarumat beragama di Kota Bandung.
Pada 29 April 2025, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meresmikan Kampung Toleransi ke-6 yang berlokasi di RW 01, 02, dan 03 Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar. Kehadiran kampung toleransi ini memperluas ruang interaksi sosial lintas agama dan budaya di tingkat kewilayahan. Sebelumnya, program serupa telah hadir di Jamika, Paledang, Dian Permai, Balong Gede, dan Kebon Jeruk sebagai bagian dari strategi membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan inklusif.
Insentif Guru Ngaji: Menyentuh Langsung Pengabdian di Akar Rumput
Di antara seluruh program keagamaan, satu kebijakan yang paling dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat adalah pemberian insentif bagi guru ngaji. Pada tahun 2025, sebanyak 9.232 guru ngaji menerima dukungan insentif dengan total anggaran mencapai hampir Rp39 miliar.
Program ini menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap penguatan pendidikan keagamaan di tingkat akar rumput. Para guru ngaji, yang selama ini mengabdikan diri dengan honor relatif rendah dari yayasan, mendapatkan apresiasi yang layak atas jasa mereka membentuk generasi muda yang berakhlak dan paham agama.
Apresiasi mengalir dari para penerima manfaat. Yusup Sumirat, guru dari Madrasah Ibtidaiyah, mengaku bersyukur atas keberlanjutan program tersebut. Menurutnya, perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap guru keagamaan terasa nyata karena penyaluran insentif dilakukan secara rutin dan konsisten.
“Alhamdulillah sangat senang sekali. Ini bentuk perhatian Kota Bandung, alhamdulillah konsisten sudah hampir tujuh tahun berjalan. Sangat luar biasa. Dana hibah seperti ini sangat berarti sekali untuk para guru maupun tenaga pendidik di madrasah ibtidaiyah,” ujarnya di Masjid Al-Ukhuwah, Jalan Wastukancana, Kota Bandung.
Senada dengan Yusup, Jajat Sudrajat dari MA Babussalam menilai program insentif menjadi penyemangat bagi para guru untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan keagamaan.
Menjaga Keberlanjutan, Memperkuat Harmoni
Nasrulloh menambahkan, keberlanjutan program agamis tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas spiritual, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di Kota Bandung yang majemuk.
“Kegiatan keagamaan harus dirawat secara konsisten dan dijalankan sesuai regulasi agar niat baik pemerintah memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Ia berharap dukungan pimpinan daerah terhadap program keagamaan terus berlanjut, baik dari sisi kebijakan maupun penganggaran. Kesra juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan program-program tersebut sebagai ruang memperkuat spiritualitas sekaligus menjaga kerukunan sosial.
“Harapan kami, warga Kota Bandung semakin agamis, toleran, dan mampu hidup berdampingan dengan damai. Ini bagian penting dari semangat Bandung Utama,” tuturnya.
Satu tahun perjalanan Bandung Utama membuktikan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari beton dan aspal, tetapi juga dari kualitas hubungan antarmanusia dan kedekatan mereka dengan nilai-nilai ketuhanan. Dengan menguatkan gerakan agamis, mensejahterakan para guru ngaji, dan merawat toleransi melalui kampung-kampung damai, Kota Bandung sedang membangun fondasi sosial yang kokoh untuk masa depan yang lebih harmonis dan berkeadaban.














