[Locusonline.co] GARUT – Di tengah bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah yang tetap berjalan selama bulan Ramadan, muncul aksi sosial unik sekaligus bernuansa kritik di Kabupaten Garut. Seorang pencukur rambut, Ari Ahmad Riadi, menggelar aksi bertajuk “MBG: Mangkas Buuk Gratis dan Menu Buka Gratis” di kawasan Bundaran Simpang Lima, Kecamatan Tarogong Kidul, Jumat sore (27/2/2026).
Aksi yang memadukan layanan sosial dan pesan kritis ini langsung menarik perhatian warga yang melintas. Di lokasi, Ari menyediakan layanan cukur rambut gratis bagi masyarakat serta membagikan menu berbuka puasa tanpa dipungut biaya sepeser pun.
MBG Versi Rakyat: Mangkas Buuk Gratis, Bukan Sekadar Program Administratif
Ari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus kritik sosial terhadap pelaksanaan program bantuan agar benar-benar tepat sasaran.
“MBG harus tepat sasaran ke warga yang memang berhak menerima. Jangan sampai dijadikan ladang bisnis. Namanya gratis ya memang harus gratis, ambil keuntungan sewajarnya, jangan sebesar-besarnya,” ujarnya.
Menurut Ari, inisiatif ini murni gerakan sosial tanpa kepentingan komersial. Baginya, esensi bantuan sosial adalah kebermanfaatan langsung bagi masyarakat yang membutuhkan, bukan sekadar program administratif yang sibuk dengan laporan namun lupa pada substansi.
Suara Anak Sekolah: “Lebih Baik Uangnya Saja”
Hal menarik muncul saat Ari berdiskusi dengan sejumlah anak sekolah yang datang untuk mencukur rambut. Mereka memberikan respons yang cukup mengejutkan terkait program Makan Bergizi Gratis.
“Tadi saya sempat ngobrol sama anak sekolah yang dicukur. Mereka bilang, kalau bisa uangnya saja yang diberikan langsung supaya bisa ditabung buat beli baju Lebaran. Karena kalau makanannya kadang suka dibuang karena berbagai kondisinya yang tidak layak makan,” ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi bahan refleksi bahwa kebijakan publik kerap memiliki dinamika di lapangan yang perlu didengar secara langsung dari penerima manfaat. Apa yang dirancang di meja diskusi belum tentu sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.
Kritik yang Membangun: Antara Program dan Realitas
Ari menilai, kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri cukup beragam. Karena itu, pendekatan program sosial perlu mempertimbangkan kondisi riil dan aspirasi warga.
Beberapa poin kritik yang dapat ditarik dari aksi ini:Aspek Kritik dan Harapan Ketepatan Sasaran Bantuan harus benar-benar sampai ke yang berhak, bukan malah jadi ladang bisnis Kualitas Bantuan Makanan jangan sampai tidak layak konsumsi hingga akhirnya dibuang Fleksibilitas Program Kebutuhan masyarakat berbeda-beda, perlu ruang untuk menyesuaikan Partisipasi Penerima Suara rakyat kecil harus didengar dalam evaluasi program Nilai Keberkahan Berbagi harus dilandasi ketulusan, bukan sekadar memenuhi target
Antusiasme Warga: Bukti Kebutuhan Nyata
Dalam aksi Mangkas Buuk Gratis tersebut, sejumlah warga tampak antusias memanfaatkan layanan cukur rambut tanpa biaya. Sementara itu, paket menu berbuka juga dibagikan kepada masyarakat sekitar, khususnya mereka yang beraktivitas di jalanan dan kawasan sekitar bundaran.
Antusiasme ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan, terutama di bulan suci Ramadan.
Pesan di Balik Gunting dan Takjil
Ari berharap, aksi kecil yang dilakukannya bisa menjadi pengingat bahwa semangat berbagi harus dilandasi ketulusan.
“Ini bentuk kritik tapi juga solusi sederhana. Kalau bisa membantu langsung dan jelas manfaatnya, kenapa tidak? Yang penting jangan sampai bantuan yang seharusnya untuk rakyat justru dimanfaatkan untuk kepentingan lain,” katanya.
Aksi ini mengajarkan bahwa:
✅ Kritik tidak harus keras, bisa disampaikan dengan cara kreatif dan penuh makna
✅ Berbagi tidak harus menunggu kaya, niat tulus lebih berharga dari materi
✅ Mendengar suara rakyat adalah kunci perbaikan kebijakan
✅ Ramadan adalah momentum untuk membersihkan hati, termasuk dari praktik-praktik yang tidak adil
MBG: Antara Program Nasional dan Realitas Lokal
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah memang bernilai positif. Namun, aksi Ari mengingatkan bahwa implementasi di lapangan harus terus dievaluasi. Jangan sampai program mulia ini justru melahirkan masalah baru karena tidak tepat sasaran atau kualitas yang buruk.
Suara dari Garut ini layak didengar oleh para pengambil kebijakan. Karena pada akhirnya, yang paling tahu kebutuhan rakyat adalah rakyat itu sendiri. (**)
#MBGRakyat #MangkasBuukGratis #MenuBukaGratis #KritikSosial #Garut #RamadanBerbagi #BantuanTepatSasaran #SuaraRakyat














