[Locusonline.co] JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (2/3/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 49 poin atau 0,29 persen ke level Rp16.836 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.787.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang memanas sepanjang akhir pekan. Serangan militer gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran serta serangan balasan Iran telah mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global, mendorong investor berbondong-bondong beralih ke aset safe haven seperti dolar AS .
Pergerakan Mata Uang Asia dan Eropa
Pada perdagangan pagi ini, pergerakan mata uang kawasan Asia terpantau didominasi pelemahan terhadap dolar AS:Mata Uang Pergerakan Yen Jepang (JPY) Melemah 0,18% Dolar Hongkong (HKD) Menguat 0,01% Dolar Singapura (SGD) Melemah 0,17% Dolar Taiwan (TWD) Melemah 0,26% Won Korea (KRW) Melemah 0,8% Peso Filipina (PHP) Melemah 0,6% Rupee India (INR) Melemah 0,07% Yuan China (CNY) Melemah 0,11% Ringgit Malaysia (MYR) Melemah 0,29% Baht Thailand (THB) Melemah 0,45%
Sementara itu, mata uang utama Eropa bergerak cenderung menguat terhadap dolar AS:
- Euro (EUR): menguat 0,25%
- Pound Sterling (GBP): menguat 0,3%
- Franc Swiss (CHF): menguat 0,04%
- Krona Swedia (SEK): melemah 0,36%
- Krona Denmark (DKK): melemah 0,25%
Analisis: Tekanan Geopolitik dan Dampaknya
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai eskalasi serangan AS–Israel terhadap Iran sepanjang akhir pekan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas serta potensi gangguan pasokan minyak global .
“Setelah serangan militer dilancarkan ke Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer, sehingga meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih besar,” kata Andry, Senin (2/3/2026) .
Lebih lanjut, Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 30 persen perdagangan minyak dunia. Langkah ini mendorong harga minyak Brent naik ke USD78,3 per barel dari sebelumnya USD72,8. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 98,0 .
“Kondisi ini berpotensi semakin memicu perilaku risk-off di pasar keuangan, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang kembali naik serta potensi tertundanya pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral utama dunia,” tambah Andry .
Dampak Ekonomi bagi Indonesia
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran akan menekan perekonomian Indonesia secara bersamaan, mulai dari inflasi, nilai tukar rupiah, hingga fiskal .
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyampaikan bahwa konflik ini bukan sekadar isu geopolitik regional, melainkan shock eksternal bagi negara berkembang seperti Indonesia .
“Mekanisme transmisinya terutama melalui perubahan perilaku investor global. Ketika risiko global meningkat, pasar masuk fase risk-off sehingga dana portofolio keluar dari emerging market menuju aset aman. Dampaknya terlihat pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan yield SBN, dan meningkatnya premi risiko negara,” jelas Rizal .
Dari sisi energi, Indonesia sebagai net importir minyak akan langsung merasakan dampak kenaikan harga minyak melalui:
- Membengkaknya subsidi energi yang menekan APBN
- Pelemahan rupiah akibat meningkatnya kebutuhan valas untuk impor energi
- Tekanan inflasi dari kenaikan biaya transportasi dan logistik
Respons Bank Indonesia
Menanggapi dinamika tersebut, Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan bahwa bank sentral akan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar .
“Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” tegas Erwin .
Selain stabilisasi nilai tukar, BI juga akan mengoptimalkan bauran kebijakan guna memperkuat transmisi kebijakan suku bunga ke sektor riil dan sistem keuangan .
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah pada hari ini bakal bergerak melemah imbas dari perang antara Iran dan AS. Rupiah diprediksi melemah di kisaran Rp16.750–Rp16.900 per dolar AS .
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.785–Rp17.002 per dolar AS hari ini, seiring meningkatnya volatilitas pasar global .
Dampak pada Pasar Saham
Tekanan juga terlihat di pasar saham. IHSG dibuka melemah 1,97 persen ke level 8.073 pada awal perdagangan, dengan 575 saham terkoreksi . Analis memprediksi tekanan akan berlanjut seiring arus keluar dana asing dan volatilitas rupiah .
Kiwoom Sekuritas menyarankan investor untuk mengurangi eksposur di aset berisiko dan bersikap wait and see untuk sementara waktu. Meskipun demikian, saham-saham berbasis komoditas seperti energi dan emas berpotensi mencetak kinerja positif di tengah kenaikan harga komoditas global .
Pelemahan rupiah ke level Rp16.836 per dolar AS pada awal perdagangan hari ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar keuangan Indonesia terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Dengan Iran yang menutup Selat Hormuz dan meningkatkan serangan balasan, harga minyak dunia berpotensi terus melonjak, memberikan tekanan berlapis pada rupiah, APBN, dan perekonomian nasional.
Bank Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, durasi dan intensitas konflik akan menjadi faktor penutama seberapa dalam dampak yang harus ditanggung perekonomian Indonesia ke depan. (**)













