LOCUSONLINE, JAKARTA – Wacana Work From Home (WFH) yang digadang-gadang sebagai jurus hemat bahan bakar justru mendapat “rem pengaman” dari parlemen. Komisi II DPR mengingatkan: jangan sampai niat mengirit BBM berubah jadi festival long weekend terselubung.
Melansir berita CNN Indonesia. Anggota Komisi II DPR, Deddy Sitorus, menilai penerapan WFH sebaiknya tidak dilakukan pada hari Senin dan Jumat. Alasannya sederhana namun cukup menohok dimana kombinasi WFH dengan akhir pekan berpotensi menciptakan libur panjang yang justru mendorong mobilitas dan pada akhirnya, konsumsi BBM.
“Kalau tujuannya untuk menghemat BBM yang berpotensi langka, sebaiknya tidak memasukkan hari Jumat dan Senin,” ujarnya, Jumat (27/3). Dalam logika yang sulit dibantah, ia menambahkan bahwa kebijakan yang salah posisi hari bisa berbalik arah dari hemat menjadi boros.
Alih-alih di awal atau akhir pekan, ia menyarankan WFH ditempatkan di “zona aman” Selasa hingga Kamis. Sebuah kompromi yang mencoba menjaga keseimbangan antara produktivitas kerja dan godaan rebahan berkepanjangan.
Namun, Deddy juga mengingatkan bahwa WFH tanpa pengawasan bisa berubah menjadi istilah halus untuk “libur resmi tanpa nama”. Ia mempertanyakan kesiapan aparatur sipil negara (ASN) dalam hal perangkat kerja dan sistem pengawasan.
“Kalau tidak bisa diawasi dan tidak bekerja, sebut saja libur, bukan WFH,” katanya, dengan nada yang terdengar seperti evaluasi jujur terhadap realitas birokrasi.
Baca Juga : One Way, One Drama: Jalan Tol Disulap Jadi Jalur Satu Arah, Pemudik Diminta Ikut Arus Bukan Perasaan
Selain itu, ia menekankan perlunya kejelasan sektor mana saja yang boleh menerapkan WFH. Menurutnya, layanan publik esensial tidak bisa ikut-ikutan bekerja dari rumah, karena dampaknya bisa menjalar ke aktivitas ekonomi yang lebih luas.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










