[Locusonline.co] Jakarta – Anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar, Firnando Ganinduto, menyoroti kenaikan harga plastik dan bahan kemasan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan harga plastik yang mencapai hingga 50 persen ini dinilai telah memberikan tekanan serius terhadap pelaku usaha, khususnya sektor UMKM makanan dan minuman.
“Kenaikan harga yang dipicu gangguan rantai pasok global dan industri petrokimia ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi sektor riil,” kata Firnando dalam siaran pers, Senin (6/4/2026).
Firnando menegaskan, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa respons kebijakan yang konkret dari pemerintah.
Data Kenaikan Harga Plastik: Dari Rp10.000 Menjadi Rp15.000
Berdasarkan catatan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), harga plastik di pasar melonjak tajam sejak konflik di Timur Tengah memanas. Kenaikan terjadi secara bertahap sejak 28 Februari 2026 hingga mencapai puncaknya saat ini.Periode Harga Kantong Plastik Kenaikan Sebelum 28 Februari 2026 Rp10.000 – Saat ini (April 2026) Rp15.000 +50%
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, menjelaskan bahwa kenaikan terjadi bertahap setiap minggu.
“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih Rp10.000. Kemudian bertahap selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp500, naik Rp700, naik macam-macam sampai hari ini puncaknya naik di 50 persen,” kata Reynaldi saat dihubungi Kompas.com, Senin (6/4/2026).
Dampak Serius terhadap UMKM: Cost-Push Inflation Mengancam
Firnando menilai, lonjakan harga plastik yang terus meningkat lebih dari dua kali lipat telah menekan margin keuntungan pelaku usaha kecil. Terlebih, pelaku UMKM berada dalam posisi dilematis karena mereka tidak dapat dengan mudah menaikkan harga jual—risiko kehilangan konsumen terlalu besar.
“Ini bukan sekadar kenaikan harga biasa, tetapi sudah masuk kategori tekanan biaya yang serius bagi UMKM. Jika tidak segera diintervensi, dampaknya bisa meluas ke penurunan daya tahan usaha kecil dan berpotensi memicu inflasi sektor informal,” tuturnya.
Firnando menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk nyata dari cost-push inflation (inflasi karena tekanan biaya), di mana kenaikan biaya input produksi memaksa pelaku usaha menanggung beban tambahan. Dalam kondisi seperti ini, UMKM menjadi pihak yang paling rentan karena keterbatasan daya tawar dan akses terhadap alternatif bahan baku.Dampak Kenaikan Harga Plastik Keterangan Tekanan margin keuntungan Biaya produksi naik, harga jual sulit dinaikkan Risiko kehilangan konsumen Jika menaikkan harga, konsumen bisa beralih Potensi inflasi sektor informal Harga barang kebutuhan sehari-hari ikut naik Penurunan daya tahan UMKM Usaha kecil berisiko gulung tikar
Rekomendasi Firnando Ganinduto: 4 Langkah Strategis
Firnando menilai, pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan (Kemendag), perlu segera mengambil langkah strategis untuk mengendalikan harga dan memastikan ketersediaan bahan baku di pasar domestik. Berikut rekomendasinya:Langkah Keterangan 1. Pengawasan distribusi bahan baku Memastikan rantai pasok tidak terhambat oleh spekulan 2. Penguatan industri petrokimia dalam negeri Mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global 3. Percepatan impor bahan baku plastik Menjalin kerja sama langsung dengan negara produsen 4. Koordinasi lintas kementerian Kebijakan tidak hanya jangka pendek, tetapi berkelanjutan
“Kemendag harus lebih aktif dalam menjaga keseimbangan pasar. Jangan sampai pelaku UMKM terus menjadi pihak yang menanggung beban dari gejolak global. Intervensi yang cepat dan tepat, termasuk percepatan impor bahan baku plastik dari negara produsen, sangat dibutuhkan agar stabilitas harga dan keberlangsungan usaha tetap terjaga,” imbuh Firnando.
Penyebab Lonjakan: Gangguan Rantai Pasok Global
Kenaikan harga plastik dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah yang memanas. Industri petrokimia sebagai pemasok utama bahan baku plastik mengalami tekanan, sehingga harga bahan baku naik dan berdampak hingga ke tingkat pedagang eceran.
“Kenaikan harga yang dipicu gangguan rantai pasok global dan industri petrokimia ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi sektor riil,” tegas Firnando.
Harapan ke Depan: Perlindungan Berkelanjutan bagi UMKM
Firnando mendorong adanya koordinasi lintas kementerian untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu memberikan perlindungan berkelanjutan bagi pelaku usaha jika terjadi kasus tersendatnya bahan baku plastik di masa depan.
Pedagang pasar dan pelaku UMKM berharap pemerintah segera turun tangan. Pasalnya, beban kenaikan biaya kemasan plastik saat ini sepenuhnya ditanggung oleh pedagang.
“Tadi awalnya Rp10.000, hari ini beban biayanya ditanggung oleh pedagang menjadi Rp15.000,” ujar Reynaldi.
Lonjakan harga plastik hingga 50 persen menjadi ancaman serius bagi ketahanan UMKM Indonesia. Anggota DPR Firnando Ganinduto mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah intervensi, mulai dari pengawasan distribusi, penguatan industri dalam negeri, hingga percepatan impor bahan baku. Tanpa respons cepat, gelombang inflasi sektor informal dan penurunan daya saing UMKM sulit dihindari. (**)














