LOCUSONLINE – Uang bukan hanya sekadar alat tukar dalam transaksi ekonomi, namun juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Ingin tahu jenis uang kuno yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran?, yu kita bahas jenis uang kuno yang memiliki nilai jual tinggi.
Seiring berjalannya waktu, beberapa jenis uang kuno justru mengalami kenaikan harga karena kelangkaannya, usia, dan kondisi fisiknya yang masih terjaga.
Bagi para kolektor dan pecinta numismatik, uang kuno bisa menjadi investasi yang sangat menguntungkan. Berikut ini beberapa jenis uang kuno yang memiliki harga mahal apabila dijual di pasar kolektor.
Baca juga :
Wisata Salegar Sudah Diadukan Ke Bupati dan Satpol PP, Beranikah Menindak Seperti Pada PKL?
RUU Perampasan Aset Itu Cermin Tekad atau Sekedar Simbol Kosong?
- Uang Kertas Seri ORI (Oeang Republik Indonesia)
Uang Republik Indonesia atau ORI adalah uang kertas pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1945, tidak lama setelah kemerdekaan. Nilainya mungkin kecil saat itu, namun karena menjadi simbol perjuangan kemerdekaan, ORI memiliki nilai historis yang tinggi. Uang ORI dalam kondisi baik bisa dihargai mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per lembar, tergantung pada kelangkaannya.
- Uang Koin Belanda Hindia (VOC dan Kolonial)
Uang koin yang beredar pada masa kolonial Belanda, khususnya yang dicetak oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) memiliki daya tarik tersendiri. Koin logam seperti yang dicetak pada abad ke-17 hingga ke-19 ini bisa bernilai tinggi, terutama yang berbahan dasar perak atau emas. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah jika dalam kondisi prima dan langka.
- Uang Kertas Pecahan 500 Gambar Orang Utan (Emisi 1992)
Meskipun belum tergolong sangat kuno, uang pecahan Rp500 dengan gambar orang utan menjadi buruan kolektor karena desainnya yang unik dan sudah tidak lagi diproduksi. Harganya di pasaran kolektor bisa mencapai ratusan ribu rupiah per lembar tergantung pada kualitas cetak dan kelangkaannya.
Baca juga :
Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues














