Ambisi Emas BRMS: Dari Palu untuk Indonesia
[locusonline.co] PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) secara resmi memaparkan peta jalan (roadmap) produksi emas yang ambisius untuk tiga tahun ke depan. Dalam Laporan Pelaksanaan Public Expose Tahunan yang digelar pada 5 November 2025, perusahaan memproyeksikan lonjakan produksi hingga 160.000 troy ounce pada 2027-2028 .
Target ini menandai pertumbuhan yang luar biasa, mengingat produksi pada 2025 ditargetkan berkisar 68.000–71.000 troy ounce. Dengan demikian, perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi lebih dari 135% dalam kurun waktu tiga tahun. Pada 2026, produksi diproyeksikan naik moderat menjadi sekitar 80.000 troy ounce sebelum akhirnya melesat setahun kemudian .
Mesin Pertumbuhan: Tambang Bawah Tanah Palu dengan Kadar Tinggi
Lonjakan signifikan yang dijadwalkan pada 2027-2028 tidak datang dari ruang hampa. Mesin utama pertumbuhan ini adalah proyek tambang bawah tanah di Palu, Sulawesi Tengah yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester kedua 2027 .
Apa yang membuat tambang bawah tanah ini begitu istimewa? Rata-rata kadar emasnya yang jauh lebih tinggi. Tambang ini diperkirakan memiliki kandungan emas sebesar 3.5 gram per ton (g/t) hingga 4.9 g/t . Kadar yang significantly higher ini merupakan katalis utama yang akan mendongkrak output emas perusahaan secara keseluruhan. Proyek ini berada di bawah pengelolaan anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals (CPM).
Ekspansi Nasional: Lima Pilar Utama BRMS
Mencapai target sebesar itu tidak mungkin hanya mengandalkan satu lokasi. BRMS telah menyusun strategi ekspansi yang komprehensif dengan mengerahkan lima aset utama perusahaan yang tersebar dari ujung barat hingga tengah Indonesia :
- PT Citra Palu Minerals (CPM): Lokasi tambang bawah tanah Palu yang menjadi andalan.
- PT Gorontalo Minerals (GM): Menjadi fokus untuk kegiatan pengeboran lebih lanjut.
- PT Linge Mineral Resources (LMR): Mengembangkan tambang emas di Aceh.
- PT Suma Heksa Sinergi (SHS): Mengembangkan tambang emas di Banten.
- PT Dairi Prima Mineral (DPM): Proyek andalan non-emas dengan kadar seng rata-rata di atas 10%, yang diklaim sebagai kadar seng tertinggi ketiga di dunia .
Strategi Pendanaan: Sindikasi Bank hingga Rights Issue
Untuk mewujudkan ambisi ekspansi ini, BRMS membutuhkan dana yang tidak sedikit. Perusahaan saat ini sedang dalam proses mencari pendanaan besar melalui sindikasi bank .
Dana yang berhasil dihimpun akan dialokasikan untuk:
- Mengembangkan proyek tambang bawah tanah di Palu.
- Mendanai pengeboran lebih lanjut di Gorontalo.
- Mendukung pengembangan tambang emas di Aceh (LMR) dan Banten (SHS) .
Perusahaan juga tidak menutup mata terhadap opsi pendanaan lain. Penerbitan obligasi atau rights issue tetap menjadi peluang, terutama jika muncul rencana akuisisi baru yang dinilai dapat memberikan kontribusi positif terhadap Laba, EBITDA, dan Penjualan perusahaan .
Masa Depan Berkilau: Diversifikasi dengan Seng Kelas Dunia
Di balik narasi emas yang berkilau, BRMS sesungguhnya menyimpan satu aset strategis lainnya yang tak kalah berharga: proyek seng dan timah hitam di Dairi Prima Mineral (DPM) .
Proyek ini bukanlah proyek tambang biasa. Kadar seng rata-ratanya yang di atas 10% menempatkannya pada peringkat ketiga tertinggi di dunia . Hal ini tidak hanya memberikan diversifikasi aliran pendapatan di masa depan tetapi juga memposisikan BRMS sebagai pemain signifikan dalam industri logam dasar global.
Dengan kombinasi antara lonjakan produksi emas yang telah di depan mata dan potensi jangka panjang dari logam industri berkualitas dunia, perjalanan BRMS dalam tiga tahun ke depan layak untuk diikuti. Apakah perusahaan ini akan berhasil mengubah sumber daya di bawah tanah menjadi nilai bagi pemegang saham dan perekonomian Indonesia? Hanya waktu yang akan membuktikan. (**)











