LOCUSONLINE, GARUT — Di sudut Kecamatan Leles yang terus menggeliat karena deru pembangunan industri, PT Hoga Reksa Garment kembali membuktikan bahwa kemajuan fisik tidak selalu seiring dengan kemajuan sosial. Pabrik ini kian menjulang megah, namun harapan para pemuda setempat yang menganggur justru kian terpuruk ke dasar lantai produksi yang tak kunjung mereka pijak.
Jumat, 11 Juli 2025, reporter Locusonline kembali mengunjungi Desa Haruman—bukan untuk melihat kemajuan teknologi manufaktur, tapi mendengar keluh kesah klasik: pembangunan pabrik yang mengabaikan manusia.
“Sudah daftar dari dulu, tapi cuma dipanggil, tak ada panggilan kerja,” ujar seorang ibu sambil menyeka air mata di teras rumahnya. Anaknya, lulusan sekolah yang sudah lama menggantungkan harapan pada pabrik tersebut, kini hanya menggantung asa di bawah atap rumah yang nyaris bocor oleh ketidakpastian.
Warga Kp. Sayuran, Agi, mengaku jenuh menjadi penonton di kampung sendiri. “Dari luar daerah gampang diterima, kita orang sini malah susah masuk,” keluhnya. Ironi menjadi menu harian: debu pabrik ditelan warga setempat, tapi gajinya justru mengalir ke luar kampung.
Baca Juga :
Gunung Guntur Belum Batuk, Tapi Semua Sudah Berteriak: Gladi Resik Panik Nasional
Kepala Desa Bahagia di Hotel Berbintang, Warga Tetap Bertani dengan Galau
Pihak pemerintahan Desa Haruman pun tak tinggal diam—setidaknya di atas kertas. Mereka mengklaim telah mengumpulkan berkas lamaran warga sejak bulan-bulan bahkan tahun-tahun lalu. Tapi entah terselip di laci mana, ribuan harapan itu belum juga terakomodasi. Para pelamar lokal, terutama yang laki-laki, masih lebih sering mengantar lamaran daripada mengantar hasil produksi.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”