Bandung

“Enakeun untuk Lari”, Branding Cerdas Bandung Gaet Pelari Nasional

rakyatdemokrasi
×

“Enakeun untuk Lari”, Branding Cerdas Bandung Gaet Pelari Nasional

Sebarkan artikel ini
“Enakeun untuk Lari”, Branding Cerdas Bandung Gaet Pelari Nasional locusonline featured image Feb

[Locusonline.co] Bandung – Dalam rentang setahun terakhir, Kota Bandung dengan konsisten mengeksekusi sebuah strategi yang mengubah arena olahraga menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Melalui serangkaian acara lari berskala nasional seperti Bandung 10K, Pocari Sweat Run, Soekarno Run, QRIS Run, hingga Tahura Trail Run, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung secara sistematis mematri citra baru: “Kota Ternyaman dan Favorit Pelari” di Indonesia. Wali Kota Muhammad Farhan menjadi motor utama strategi sport tourism ini.

“Paling enak lari itu di Kota Bandung. Jalannya banyak pohon, sejuk. Ini yang bikin para pelari terus ingin ke Bandung,” ucap Farhan, merangkum daya tarik utama kota yang ia pimpin.

tempat.co

Dari Start ke Finish: Rangkaian Event yang Membangun Narasi

Pemkot Bandung tidak sekadar mengizinkan event lari, tetapi aktif berkolaborasi dan membangun narasi yang koheren di balik setiap acara. Setiap event dipilih dan didukung karena kontribusinya yang unik terhadap citra kota.

Event LariWaktuJumlah PesertaFokus & Dampak Strategis
Bandung 10KMaret 2025Penggerak Awal: Menegaskan komitmen sport tourism dan dampak ekonomi langsung pada hotel, fesyen, kuliner.
Pocari Sweat Run202546.435 (hybrid)Pembuktian Skala: Menunjukkan kapasitas Bandung jadi tuan rumah event massal nasional.
Soekarno Run8 Juni 20256.601Pelekatan Sejarah & Identitas: Mengaitkan citra kota dengan nilai perjuangan dan warisan sejarah Bung Karno.
QRIS RunJuli 2025Modernitas & Inovasi: Memadukan branding kota nyaman dengan adaptasi digital (pembayaran QRIS).
Tahura Trail RunJan 20262.883Ekspansi ke Alam: Memperluas pengalaman “lari di Bandung” ke wisata alam dan konservasi.

Bagaimana Lari Menghidupkan Kota?

Strategi sport tourism ini didorong oleh kalkulasi ekonomi yang nyata. Farhan secara gamblang menyatakan tujuannya: “Meningkatkan okupansi hotel dan pendapatan masyarakat dari fesyen dan kuliner.” Sebuah event lari besar bukan sekadar acara satu hari.

Ia menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang melibatkan banyak sektor:

  • Akomodasi: Peserta dari luar kota membutuhkan penginapan, meningkatkan occupancy rate hotel dan homestay.
  • Kuliner: Peserta, pendukung, dan penonton berkontribusi pada restoran, kafe, dan usaha kuliner lokal.
  • Ritel & Fesyen: Pembelian perlengkapan lari, merchandise event, dan oleh-oleh.
  • Transportasi & Logistik: Penggunaan taksi, ride-hailing, dan jasa logistik untuk peralatan event.
  • Pariwisata Tambahan: Peserta seringkali memperpanjang stay untuk berwisata di sekitar Bandung.

Dengan total puluhan ribu peserta dalam setahun, dampak ekonomi kumulatifnya sangat signifikan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan perputaran uang di kota.

Keunggulan Kompetitif: “Enakeun untuk Lari” sebagai Brand Kota

Farhan dengan cerdik mengidentifikasi dan mempromosikan keunggulan alamiah Bandung sebagai unique selling proposition (USP) utama: kenyamanan.

“Kalau tidak sedang ada ‘race’, pelari tetap bisa merasakan kenyamanan lari di Bandung. Udara sejuknya sampai jam 10 pagi,” katanya. Pernyataan ini penting karena mengubah event-based tourism menjadi destination-based tourism. Bandung tidak hanya ingin dikunjungi saat ada lomba, tetapi dijadikan tujuan latihan dan running getaway sehari-hari.

Faktor pendukung lain adalah infrastruktur publik yang ditingkatkan. “Kita sekarang punya alasan kuat untuk memperbaiki semua fasilitas olahraga. Event seperti ini membuktikan manfaatnya sangat luas,” ujar Farhan. Dukungan terhadap event menjadi pembenaran strategis untuk meningkatkan anggaran perawatan taman, trotoar, dan fasilitas olahraga kota, yang pada akhirnya juga dinikmati warga sehari-hari.

Sinergi Branding: Olahraga, Sejarah, dan Konservasi

Yang membedakan strategi Bandung adalah kemampuannya menenun berbagai benang narasi menjadi satu kisah yang kuat:

  1. Kenyamanan & Alam (Enakeun untuk Lari): Dasar utama, menjual pengalaman fisik yang menyenangkan.
  2. Warisan Sejarah (Kota Perjuangan): Seperti dalam Soekarno Run, memberikan kedalaman emosional dan nilai edukasi.
  3. Konservasi & Tanggung Jawab (Running for Conservation): Seperti di Tahura Run, menambahkan nilai moral dan kesadaran lingkungan, menarik peserta yang peduli.

Kombinasi ini membuat branding Bandung menjadi multidimensional dan menarik bagi segmen pasar yang lebih luas, tidak hanya pelari kompetitif, tetapi juga pelari rekreasi, pelancong budaya, dan pencinta alam.

Tantangan dan Masa Depan: Menjaga Momentum

Untuk menjaga momentum, beberapa tantangan perlu diatasi:

  • Manajemen Keramaian & Lalu Litas: Seperti diakui Farhan dalam QRIS Run, teknis lalu lintas dan parkir harus terus dipersiapkan dengan matang untuk meminimalkan gangguan bagi warga.
  • Keberlanjutan Lingkungan: Event massal menghasilkan sampah. Konsep eco-run dan pengelolaan sampah yang ketat harus menjadi standar.
  • Peningkatan Kualitas Infrastruktur Rutin: Trotoar yang nyaman, ruang hijau yang terpelihara, dan fasilitas umum bersih harus dijaga di luar event.
  • Pengembangan Produk Turunan: Mengembangkan paket running tourism (paket latihan, tur lari heritage, dll.) untuk menarik pelari internasional.

Dengan strategi yang terencana dan eksekusi yang konsisten, Bandung telah berhasil mentransformasikan olahraga lari dari aktivitas individu menjadi alat kebijakan publik yang powerful untuk mendongkrak pariwisata, ekonomi, citra kota, dan kualitas hidup warganya. Jika berkelanjutan, predikat “Kota Favorit Pelari” tidak hanya akan menjadi slogan, tetapi realitas ekonomi yang terus mengalirkan manfaat bagi Bandung. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow