Garut tidak hanya bertransformasi menjadi lumbung kedelai baru Indonesia, tetapi juga mempersiapkan ribuan UMKM untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam rantai pasok nasional.
[Locusonline.co] Dalam sebuah terobosan yang dapat mengubah peta ekonomi dan ketahanan pangan Kabupaten Garut, Bupati Abdusy Syakur Amin membuka secara resmi Program Kick Off Pemberdayaan UMKM dan Kelompok Masyarakat sebagai Supplier Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang dimotori bersama PT Mandala 525 (MDL 525) ini bertujuan mengangkat UMKM lokal menjadi penyuplai utama program nasional.
“Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi Garut. Kami bukan hanya akan membangun UMKM, tetapi juga ingin menjadikan Garut sebagai basis produksi kedelai nasional,” tegas Bupati Syakur di hadapan pelaku usaha, Rabu (21/1/2026) di Pabrik PT MDL 525, Tarogong Kidul.
Membangun Ekosistem dari Hulu ke Hilir
Program ini disebut sebagai upaya yang sangat komprehensif karena menyentuh seluruh mata rantai permasalahan klasik UMKM. “Teman-teman di UMKM dibantu menghadapi persoalan biasa yang ada: pertama dari bahan baku, proses produksi, dan keamanan pangan,” jelas Bupati.
Dengan dukungan teknologi dan sertifikasi dari mitra industri seperti MDL 525, produk UMKM diharapkan dapat memenuhi standar keamanan pangan yang ketat sehingga layak dikonsumsi dalam jangka panjang dan masuk dalam program pemerintah.
Kedelai Garut: Jawaban atas Ketergantungan Impor 2.6 Juta Ton
Fokus utama program ini adalah pengembangan budidaya kedelai lokal. Indonesia saat ini masih bergantung pada impor sekitar 2,6 juta ton kedelai per tahun. Bupati Syakur melihat ini sebagai peluang strategis.
“Kedelai adalah produk vital yang banyak digunakan untuk produk-produk makanan di Indonesia. Garut memiliki kecocokan lahan yang luar biasa untuk menjadi basis produksi,” ungkapnya.
Langkah ini tidak hanya akan menyediakan bahan baku murah dan berkualitas bagi UMKM pengolah pangan, tetapi juga menggerakkan ekonomi pertanian di tingkat petani, menciptakan kemandirian pangan baru bagi daerah.
Kolaborasi dengan Industri: Jaminan Mutu dan Pasar
PT Mandala 525, sebagai mitra strategis, memainkan peran kunci dalam skema ini. Haris Kalicman, pimpinan MDL 525, menyatakan komitmen penuh perusahaannya.
“Kami menjamin kualitas kedelai lokal mampu bersaing dengan produk impor. Peran kami adalah menjamin kualitas dengan teknologi yang kami miliki, kapasitas pabrik, serta izin BPOM dan sertifikasi lengkap yang kami punya,” tegas Haris.
Kolaborasi ini memberikan UMKM akses ke teknologi pengolahan, standarisasi produksi, dan yang terpenting, jalur distribusi yang pasti melalui program MBG. Pemerintah Kabupaten Garut akan mengirimkan surat rekomendasi resmi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar UMKM lokal mendapatkan prioritas sebagai penyuplai program nasional tersebut.
Strategi Tiga Pilar Menuju Supplier Nasional
Keberhasilan ambisi besar Garut bertumpu pada tiga pilar strategis yang saling terkait:
Dampak yang Diharapkan: Lebih dari Sekedar Pemberdayaan UMKM
Program ini dirancang untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang luas:
- Ekonomi: Meningkatkan pendapatan petani kedelai dan pelaku UMKM, menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan pengolahan.
- Ketahanan Pangan: Mengurangi ketergantungan pada kedelai impor dan memperkuat rantai pasok pangan lokal yang berkelanjutan.
- Kesehatan: Memastikan pasokan bahan pangan bergizi dengan standar keamanan tinggi untuk program MBG, berkontribusi pada perbaikan gizi masyarakat.
- Kelembagaan: Memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pelaku usaha kecil dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Menjadi Contoh Nasional
Program Garut ini bisa menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi lokal, membangun kemitraan yang setara dengan industri, dan memastikan keberpihakan kebijakan, daerah dapat menciptakan engine pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kita punya peluang, kita punya sumber daya, dan sekarang kita punya kemitraan. Tinggal action kita bersama untuk mewujudkannya,” tutup Bupati Syakur, menegaskan semangat kolaborasi yang menjadi jantung dari inisiatif strategis ini.
Dengan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, Garut tidak hanya berpotensi menjadi lumbung kedelai baru, tetapi juga menuliskan kisah sukses baru tentang kemandirian ekonomi daerah yang dimulai dari hilirisasi komoditas strategis. (**)












