“Anak-anak bisa belajar dengan lebih tenang, aman, dan nyaman,” kata Indira Noor Khasanah, Kepala SD Muhammadiyah 1 Kudus, setelah sekolahnya direvitalisasi. Namun di Garut, kemewahan ruang kelas baru harus berhadapan dengan kenyataan angka putus sekolah yang mencengangkan.
[Locusonline.co] Kabupaten Garut, Kamis (8/1/2026), menyaksikan momentum penting dalam transformasi pendidikan daerah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti meresmikan hasil revitalisasi 156 satuan pendidikan di wilayah ini, dengan total anggaran mencapai Rp133,94 miliar.
Peresmian simbolis dilakukan di SD Muhammadiyah 4 Garut Kota, menandai selesainya program perbaikan infrastruktur sekolah secara masif yang menjadi program prioritas nasional.
Kesenjangan antara pencapaian fisik dan tantangan sosial segera terungkap. Di satu sisi, Kemendikdasmen melaporkan 143 sekolah (91.6%) telah rampung 100%, dengan 13 sekolah tersisa ditargetkan tuntas akhir Januari ini.
Di sisi lain, Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengungkap data yang mengkhawatirkan: minat melanjutkan sekolah di daerahnya merosot 20% di jenjang SMP dan hingga 40% di jenjang SMA.
Faktor ekonomi, pernikahan dini, dan kesenjangan akses teknologi disebut sebagai penyebab utama.
Distribusi Anggaran dan Sasaran Revitalisasi di Garut
Program ini menyasar semua jenjang pendidikan, dengan rincian dan anggaran sebagai berikut:Jenjang Pendidikan Jumlah Sekolah Total Anggaran (Rp) Sekolah Dasar (SD) 52 sekolah 24,88 miliar Sekolah Menengah Pertama (SMP) 31 sekolah 39,21 miliar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 31 sekolah 10,61 miliar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 20 sekolah 33,45 miliar Sekolah Menengah Atas (SMA) 15 sekolah 18,46 miliar Sekolah Luar Biasa (SLB) 5 sekolah 6,59 miliar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) 2 lembaga 690,14 juta
Revitalisasi Nasional dan Strategi Swakelola
Program di Garut adalah bagian kecil dari target nasional yang ambisius. Pada tahun anggaran 2025, pemerintah menargetkan 16.171 satuan pendidikan di seluruh Indonesia untuk direvitalisasi, dan 95% di antaranya telah selesai.
Abdul Mu’ti bahkan membocorkan rencana penambahan target menjadi 60.000 sekolah pada tahun 2026, sebagai bagian dari komitmen membangun Sumber Daya Manusia (SDM) unggul sesuai visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu kunci percepatan yang ditekankan Mendikdasmen adalah pengerjaan secara swakelola oleh satuan pendidikan. Metode ini disebut memberikan dampak positif berupa penyelesaian yang lebih cepat, tepat sasaran, serta mampu menyerap tenaga kerja lokal di sekitar sekolah.
Infrastruktur vs. Isu Sosial: Dua Sisi Mata Uang Pendidikan
Di balik kesuksesan peresmian bangunan sekolah yang baru, Bupati Garut menyoroti bahwa perbaikan fisik hanyalah satu sisi dari koin pembangunan pendidikan.
Angka putus sekolah yang tinggi menjadi tantangan krusial yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ruang kelas yang bagus. Untuk merespons ini, Pemerintah Kabupaten Garut berkomitmen untuk menyelaraskan kuantitas dan kualitas.
Mereka akan menggalakkan kompetisi cerdas cermat untuk meningkatkan literasi dan sains, serta program khusus untuk mengasah kemampuan numerasi siswa. Tujuannya adalah membangun fighting spirit atau semangat juang anak-anak Garut melalui budaya berkompetisi yang sehat.
Peran Muhammadiyah dan Gerakan Karakter
Revitalisasi ini juga mengapresiasi peran organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah. Bupati menyebut Muhammadiyah telah membantu pemerintah menyediakan akses pendidikan hingga ke pelosok Garut.
Dalam kunjungan yang sama, Mendikdasmen juga menyempatkan diri untuk mengkampanyekan Gerakan Rukun Sama Teman di SMPN 1 Tarogong Kaler, yang diikuti ratusan siswa.
Gerakan ini, beserta 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, ditekankan sebagai fondasi penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.
Pesan ini sejalan dengan pernyataan Mendikdasmen bahwa revitalisasi bukan sekadar soal membangun tembok, tetapi tentang menciptakan rasa aman yang membuat anak tenang belajar dan guru nyaman mengajar.
Revitalisasi sekolah di Garut telah meletakkan fondasi fisik yang kokoh. Namun, jalan menuju peningkatan kualitas SDM yang seutuhnya masih panjang.
Kesuksesan program Rp133,94 miliar ini kelak akan diukur bukan hanya dari bangunan yang berdiri, tetapi dari bagaimana ruang-ruang baru itu dapat menjadi magnet yang menarik anak-anak kembali ke sekolah, memutus siklus putus sekolah, dan benar-benar mencetak generasi unggul untuk masa depan Garut dan Indonesia. (**)












