LOCUSonline, JAKARTA – Di tengah pertanyaan klasik “lulusan siap kerja atau siap menganggur?”, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turun langsung ke lapangan. Bukan untuk ujian mendadak, melainkan memastikan apakah lembaga kursus benar-benar mencetak tenaga siap pakai atau sekadar siap wisuda.
Kunjungan ini dipimpin Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, yang menyambangi sejumlah Lembaga Kursus dan Pelatihan (LPK) di Bandung, termasuk LPP Ariyanti dan Ganesha Operasional.
Alih-alih sekadar seremonial, kunjungan ini diisi dengan “pertanyaan inti”: bagaimana lembaga memastikan lulusannya benar-benar cepat masuk dunia kerja?
Di kampus LPP Ariyanti, Tatang tidak hanya melihat fasilitas dan proses belajar, tetapi juga menggali strategi lembaga dalam “mengolah” lulusan agar sesuai kebutuhan industri.
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi di dunia pendidikan vokasi, jawabannya seringkali tidak sesederhana brosur promosi.
Direktur LPP Ariyanti, Ishviastuti Oskar, menyambut kunjungan tersebut dengan antusias. Ia menilai kehadiran pemerintah sebagai sinyal bahwa lembaga pelatihan tidak sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Kami merasa diperhatikan dan termotivasi untuk menjadi lebih baik,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Namun di balik optimisme tersebut, ada realitas yang tidak bisa dihindari, teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan lembaga mengejar fasilitasnya.
Ishviastuti mengakui bahwa pihaknya harus terus beradaptasi agar tidak tertinggal. Sarana, kurikulum, hingga keterampilan yang diajarkan harus terus diperbarui agar tetap relevan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









