LOCUSonline, JAKARTA – Di panggung global pendidikan, angka belanja per siswa tampaknya menjadi cermin yang cukup jujur: siapa yang benar-benar “berinvestasi”, dan siapa yang masih berusaha sekadar “bertahan”.
Data terbaru yang dirilis Visual Capitalist menunjukkan jurang yang tak bisa lagi disebut sekadar perbedaan, melainkan kesenjangan struktural. Negara-negara kaya menghabiskan puluhan ribu dolar AS per siswa, sementara negara berkembang masih berkutat di angka yang jauh lebih rendah.
Di posisi teratas, Luxembourg tampil tanpa basa-basi dengan belanja sekitar US$31.439 per siswa atau setara Rp538,86 juta. Angka ini bukan hanya besar, tapi hampir terasa seperti “kelas premium” dalam dunia pendidikan global.
Disusul Norway dengan lebih dari US$21.000 per siswa, serta negara-negara seperti Austria dan Denmark yang konsisten berada di kisaran US$18.000–US$21.000.
Fenomena ini bukan kebetulan. Model welfare state yang dianut negara-negara tersebut menjadikan pendidikan sebagai layanan publik utama bukan sekadar program, apalagi proyek tahunan.
Rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development berada di kisaran US$15.000 per siswa. Namun rata-rata ini, seperti biasa, menyimpan cerita yang lebih kompleks.
Negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara cenderung berada jauh di atas angka tersebut. Sementara beberapa negara maju seperti Japan, Italy, dan Spain justru masih berada di bawah rata-rata, mengingatkan bahwa “maju” tidak selalu berarti “paling royal”.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









