LOCUSONLINE, JAKARTA – Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memberi sinyal yang tak sepenuhnya menenangkan bagi ekonomi Indonesia. Outlook peringkat utang negara direvisi dari stabil menjadi negatif sebuah lampu kuning yang mengingatkan bahwa pasar global mulai menajamkan alis terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang Indonesia dalam mata uang asing tetap dipertahankan di level BBB. Artinya, fondasi ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kokoh, walaupun beberapa indikator mulai memunculkan tanda tanya baru di mata investor.
Dikutip dari detikfinance. Dalam laporannya yang dirilis awal Maret 2026, Fitch menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan menjadi faktor yang memicu kekhawatiran pelaku pasar. Situasi tersebut, menurut lembaga tersebut, berpotensi menekan prospek fiskal dalam jangka menengah sekaligus memengaruhi sentimen investor dan ketahanan eksternal Indonesia.
Fitch juga menyoroti rencana pemerintah meningkatkan belanja sosial, termasuk program makan bergizi gratis yang diperkirakan menyerap anggaran sekitar 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Program tersebut dinilai dapat menambah tekanan terhadap ruang fiskal, terutama jika prioritas belanja dipusatkan pada semester pertama 2026.
Lembaga pemeringkat itu memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berada di sekitar 2,9 persen terhadap PDB. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target pemerintah yang dipatok pada kisaran 2,7 persen.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












