LOCUSonline, GARUT – Menjelang Hari Raya Idul Adha, denyut ekonomi musiman mulai terasa hingga ke pelosok desa. Di Desa Padahurip, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, para perajin tusuk sate mendadak menjadi “aktor utama” dalam rantai konsumsi daging kurban. Permintaan melonjak tajam, seolah-olah setiap potong daging sudah punya janji temu dengan tusukannya masing-masing.
Lonjakan pesanan ini membuat para perajin harus meningkatkan kapasitas produksi. Jika di hari biasa produksi berjalan santai mengikuti ritme desa, kini suasana berubah menjadi lebih sibuk. Sejumlah perajin bahkan terpaksa menambah jam kerja demi mengejar target distribusi ke berbagai daerah.
Salah seorang perajin setempat menyebutkan bahwa peningkatan permintaan mulai terasa beberapa pekan sebelum Idul Adha. Pesanan datang tidak hanya dari wilayah Garut, tetapi juga dari luar daerah yang sudah menjadi pelanggan tetap setiap tahunnya. “Kalau sudah mendekati Idul Adha, pesanan bisa naik berkali-kali lipat. Kami harus kerja lebih lama supaya semua terpenuhi,” ujarnya.
Tusuk sate yang dihasilkan umumnya berbahan dasar bambu pilihan yang dipotong, diraut, dan dirapikan secara manual. Proses produksi yang masih mengandalkan tenaga manusia ini membuat peningkatan permintaan tidak selalu bisa diimbangi dengan cepat. Di sisi lain, kualitas tetap menjadi prioritas agar tusuk sate tidak mudah patah saat digunakan.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada peningkatan aktivitas produksi, tetapi juga membuka peluang kerja sementara bagi warga sekitar. Beberapa perajin mengaku melibatkan anggota keluarga maupun tetangga untuk membantu proses pengerjaan, mulai dari pemotongan hingga pengemasan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









