Sebagai antisipasi, Dispertan menyiapkan berbagai langkah mulai dari gladi posko untuk memastikan kesiapan pompa air, hingga optimalisasi irigasi perpompaan dan perpipaan. Pemerintah daerah juga mulai mengidentifikasi sumber air permukaan sebagai cadangan saat kekeringan datang semacam “tabungan air” untuk musim sulit.
Selain itu, program rehabilitasi jaringan irigasi tersier, penambahan sarana pompa, hingga cetak sawah rakyat juga masuk dalam daftar strategi. Semua disiapkan agar target tetap terlihat realistis meski cuaca belum tentu sepakat.
Di sisi perlindungan petani, Dispertan menyiapkan skema asuransi usaha tani padi. Program ini menjadi semacam “payung hukum” ketika payung hujan tak kunjung turun.
“Kami menyediakan asuransi usaha tani sebagai antisipasi jika terjadi kekeringan,” ujar Ardhy.
Di tengah semua rencana tersebut, satu hal menjadi jelas: sektor pertanian kini tidak hanya bertaruh pada tanah dan benih, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi dengan iklim yang semakin sulit ditebak.
Karena pada akhirnya, target bisa disusun di atas kertas tetapi panen tetap ditentukan oleh langit.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









