LOCUSonline, JAKARTA – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, membawa kabar yang terdengar menenangkan sekaligus realistis ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap stabil dalam tiga bulan ke depan. Catatannya? Selama dunia tidak tiba-tiba berubah jadi sinetron geopolitik tanpa jeda iklan.
Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto berdasarkan hasil simulasi ekonomi yang disebut komprehensif. “Kondisi perekonomian kita dalam tiga bulan ke depan masih sangat aman dan terjaga. Fundamental ekonomi kita kuat,” ujar Luhut, Rabu.
Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia masih punya “sabuk pengaman” ekonomi. Namun, pemerintah tidak berhenti pada optimisme. Sejumlah skenario cadangan juga telah disiapkan, karena pengalaman mengajarkan bahwa situasi global bisa berubah lebih cepat daripada rapat koordinasi selesai.
Salah satu fokus utama langkah antisipatif adalah mengendalikan potensi lonjakan harga energi. Pemerintah mewaspadai kemungkinan melebarinya selisih antara harga minyak mentah global dan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri sebuah kondisi yang bisa membuat perhitungan fiskal ikut “berkeringat”.
Selain energi, perhatian juga diarahkan pada rantai pasok komoditas strategis seperti sulfur, yang menjadi komponen penting dalam industri hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV). Pemerintah tidak ingin ambisi menjadi pemain global di sektor ini tersendat hanya karena satu mata rantai terganggu.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









