GOW mencoba menjembatani itu melalui berbagai kegiatan dan forum lintas generasi, termasuk sarasehan yang membuka ruang dialog antarperempuan.
“Perempuan Garut harus hadir, bersuara, dan berkarya,” tegas Diana.
Acara ditutup dengan semangat “women supporting women”, sebuah konsep yang terdengar ideal meski dalam praktiknya masih harus bersaing dengan realitas sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks.
Peringatan Hari Kartini di Garut tahun ini kembali menegaskan satu hal dimana perjuangan perempuan belum selesai. Ia hanya berubah bentuk dari melawan keterbatasan pendidikan di masa lalu, menjadi menghadapi ekspektasi tanpa batas di masa kini.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









