LOCUSonline, GARUT – Di saat langit diprediksi lebih pelit menurunkan hujan, target produksi padi di Kabupaten Garut justru naik kelas. Dinas Pertanian Kabupaten Garut menargetkan produksi padi mencapai 631.490 ton gabah kering giling (GKG) pada 2026 sebuah angka ambisius yang tampak percaya diri di tengah ancaman musim kemarau yang lebih panjang.
Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dispertan Garut, Ardhy Firdian, menyebut target tersebut akan ditopang oleh rencana luas tanam 112.314 hektare dengan produktivitas rata-rata 6 ton per hektare.
“Target produksi padi 2026 sebesar 631.490 ton GKG,” ujarnya, Selasa (21/4/2026), dengan nada optimisme yang tampaknya tidak terpengaruh oleh prakiraan cuaca.
Strategi yang disiapkan pun terdengar lengkap: mulai dari optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, hingga menjaga stabilitas produktivitas. Target luas panen sendiri ditetapkan sebesar 106.718 hektare sebuah angka yang sudah disesuaikan dengan potensi lahan efektif dan kemungkinan gagal panen.
Jika melihat ke belakang, optimisme ini memang punya dasar. Pada 2025, target produksi sebesar 485.286 ton GKG justru terlampaui hingga mencapai 736.210,6 ton dari luas panen 131.011 hektare. Faktor utamanya? Hujan datang tepat waktu, sebuah “dukungan alam” yang sulit direplikasi lewat rapat koordinasi.
“Realisasi meningkat karena musim hujan sesuai perkiraan,” kata Ardhy.
Namun, cerita 2026 diperkirakan berbeda. Potensi kemarau panjang menjadi tantangan utama, terutama bagi wilayah yang bergantung pada sumber air terbatas. Dalam kondisi ini, air menjadi komoditas yang tak kalah penting dari pupuk.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









