Ironi lain datang dari ayam suwir. Menu yang tampak sederhana ini justru disebut sebagai salah satu penyumbang tertinggi kasus keracunan makanan. Penyebabnya? Kombinasi antara bahan baku yang tidak segar dan proses pengolahan yang kurang higienis.
“Sering kali ayam yang digunakan bukan ayam segar, dan proses penyuwiran dilakukan tanpa sarung tangan,” jelas Nanik.
Dalam logika dapur sehat, ini tentu bukan sekadar soal rasa, tetapi soal keselamatan konsumsi.
Menu berbasis saus juga tak luput dari sorotan. Dalam beberapa kasus, makanan dimasak setengah matang lalu dikonsumsi setelah lebih dari 12 jam bahkan ada yang dibawa pulang oleh siswa. Hasilnya bisa ditebak: kualitas menurun, risiko meningkat.
Sementara itu, ayam bakar dan ikan barbeque ternyata tidak selalu “matang sempurna”. Alih-alih menggunakan oven besar, beberapa proses pembakaran hanya mengandalkan alat torch yang lebih cocok untuk karamelisasi daripada memasak hingga ke bagian dalam.
Sebagai langkah antisipasi, Badan Gizi Nasional untuk sementara tidak merekomendasikan menu-menu tersebut dalam program MBG, setidaknya hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki tenaga masak yang benar-benar memahami standar keamanan pangan.
Di tengah semangat menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, temuan ini menjadi pengingat bahwa niat baik tetap membutuhkan eksekusi yang matang secara harfiah maupun teknis.
Program makan gratis mungkin dirancang untuk menyehatkan generasi masa depan, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, menu yang sama bisa berubah menjadi ujian dadakan bagi sistem pencernaan siswa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









