“Kalau kita bicara ekonomi syariah, kita bicara model yang sangat humanistik, bukan soal ideologi,” katanya.
Dalam konteks ini, pernyataan tersebut seolah menjadi sindiran halus terhadap sistem ekonomi yang kerap menghasilkan pertumbuhan tinggi, namun distribusi yang “pilih kasih”.
Lebih lanjut, Nasaruddin menyoroti pentingnya keadilan dalam distribusi ekonomi. Ia mengingatkan bahwa sistem yang sehat bukan hanya yang mampu menciptakan kekayaan, tetapi juga yang mampu membaginya secara lebih merata.
“Jangan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin,” ujarnya, kalimat klasik yang tampaknya masih relevan di tengah realitas ekonomi modern.
Dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian, pernyataan ini menjadi semacam pengingat bahwa stabilitas ekonomi tidak selalu datang dari kompleksitas kebijakan, melainkan dari konsistensi prinsip. Ekonomi syariah, dengan segala kesederhanaannya, justru menawarkan sesuatu yang sering terlupakan yaitu keseimbangan antara etika dan efisiensi.
Apakah ini solusi mutlak? Tentu tidak sesederhana itu. Namun di tengah dunia yang terus mencari formula baru, gagasan lama yang terbukti tahan uji tampaknya layak dipertimbangkan kembali meski mungkin tanpa embel-embel “tren”.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









