“Teknologi itu berkejar-kejaran. Kami harus terus mengejar agar bisa memenuhi kebutuhan dunia kerja,” katanya.
Sebuah pengakuan jujur bahwa dalam dunia pelatihan, stagnasi adalah cara tercepat untuk ditinggalkan.
Menariknya, konsep “linieritas” karier mulai ditafsirkan lebih fleksibel. Lulusan tidak harus bekerja sesuai jurusan yang penting bisa beradaptasi.
“Kalau tidak bisa bersaing di bidangnya, mereka harus bisa bernegosiasi dengan diri sendiri,” ujar Ishviastuti.
Dalam praktiknya, lulusan tata boga tidak harus menjadi chef, bisa saja beralih menjadi barista. Sebuah realitas yang, jika disederhanakan, menunjukkan bahwa dunia kerja lebih menghargai kemampuan daripada sekadar label jurusan.
Kunjungan ini menjadi simbol bahwa pemerintah mulai aktif melihat langsung kondisi pendidikan vokasi di lapangan. Namun, pertanyaan besarnya tetap sama, apakah sistem sudah cukup kuat untuk menjembatani dunia pendidikan dan industri?
Di satu sisi, lembaga pelatihan dituntut adaptif. Di sisi lain, dunia kerja terus bergerak dengan standar yang makin tinggi.
Dalam situasi ini, kunjungan seperti ini bisa menjadi langkah awal atau sekadar pengingat bahwa antara “siap kerja” dan “siap dilatih lagi”, seringkali hanya dibedakan oleh realita di lapangan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









