Namun di balik konsep fleksibilitas itu, tersimpan tantangan klasik: bagaimana membuat kurikulum yang lentur, tanpa kehilangan arah dan standar kualitas.
Para peserta terlihat aktif mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab. Antusiasme ini menjadi sinyal bahwa pengelola PKBM memiliki keinginan kuat untuk berkembang.
Namun seperti lazimnya pelatihan, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah kegiatan selesai ketika konsep harus diterjemahkan menjadi praktik nyata di lapangan.
Sosialisasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan nonformal bukan sekadar “opsi cadangan”, melainkan jalur strategis dalam meningkatkan kualitas SDM, terutama bagi masyarakat yang tidak terakomodasi sistem formal.
Melalui kegiatan ini, Disdikbud Kobar menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi pendidikan nonformal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Namun di balik semua jargon kebijakan, satu hal tetap menjadi penentu, sejauh mana kurikulum yang “relevan” itu benar-benar bisa diterapkan, bukan hanya dipresentasikan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









