LOCUSonline, JAKARTA – Di tengah berbagai resep pembangunan ekonomi yang sering terdengar rumit, Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menawarkan formula yang terdengar sederhana: desa wisata. Namun tentu saja, “sederhana” di sini tetap membutuhkan kerja keras, kolaborasi lintas sektor, dan sedikit sentuhan penghargaan agar terasa lebih prestisius.
Dalam keterangannya, Ni Luh menilai desa wisata di Jawa Timur telah berkembang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat yang inklusif. Artinya, bukan hanya segelintir pihak yang merasakan manfaat, tetapi juga warga desa yang sebelumnya mungkin hanya jadi penonton pembangunan.
“Jawa Timur maupun daerah lain menunjukkan bahwa desa wisata mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara inklusif,” ujarnya di Jakarta, Rabu.
Penilaian ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan kunjungan kerja ke sejumlah kabupaten di Jawa Timur, ia menemukan berbagai desa wisata unggulan dengan potensi besar, mulai dari keindahan alam hingga kreativitas lokal yang kini mulai “dikemas” lebih profesional.
Salah satu contoh yang kerap disebut adalah Wisata Alam Gosari, yang sukses menyabet penghargaan dalam ajang CSR dan Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2026. Program ini dinilai berhasil mengubah desa menjadi ruang ekonomi yang hidup bukan sekadar lokasi swafoto musiman.
Penghargaan tersebut juga diserahkan kepada Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan mendorong pembangunan desa berbasis pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Tema yang diusung pun terdengar ambisius: “Wujudkan Desa Berdaya, Dukung Geliat Pertumbuhan Ekonomi” sebuah kalimat yang, jika berhasil diwujudkan, bisa jadi mimpi banyak daerah.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









