LOCUSonline, JAKARTA – Di tengah lonjakan harga BBM nonsubsidi dan gejolak geopolitik global, pemerintah mulai melirik opsi yang dulu sempat sensitif untuk impor minyak dari Rusia. Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga pasokan energi nasional meski di saat yang sama, bayang-bayang kenaikan harga BBM tetap sulit dihindari.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, menilai situasi global saat ini menghadirkan dua tekanan sekaligus: gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak dunia.
“Harga minyak sempat mencapai sekitar 115 dolar AS per barel. Dampaknya bukan hanya pada pasokan, tetapi juga harga yang melonjak,” ujarnya dalam diskusi, Senin (20/4/2026).
Secara domestik, Indonesia memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari. Sementara kebutuhan nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Selisih ini membuat impor bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Dalam kondisi normal saja sudah defisit, apalagi ketika jalur distribusi global terganggu misalnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang kerap menjadi titik rawan geopolitik.
Di tengah situasi tersebut, Rusia kembali masuk radar sebagai pemasok potensial. Selain menawarkan harga yang lebih kompetitif (dan kadang diskon), minyak Rusia juga dinilai cocok dengan spesifikasi kilang di Indonesia.
Wacana ini semakin relevan setelah kunjungan Prabowo Subianto ke Rusia, yang disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Secara satir, langkah ini menunjukkan bahwa dalam urusan energi, prinsip sering kali fleksibel yang penting pasokan aman dan harga tidak terlalu “menyakitkan”.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









