LOCUSonline, JAKARTA – Di tengah kekhawatiran publik soal harga pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) justru membawa kabar yang terdengar menenangkan bahkan sedikit optimistis dimana mayoritas komoditas pangan nasional disebut dalam kondisi surplus.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa stok pangan nasional tidak hanya cukup, tetapi juga melampaui kebutuhan.
“Mayoritas pangan kita berlebih dan memiliki cadangan yang terjaga,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Berdasarkan proyeksi Bapanas, stok beras hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai 16,12 juta ton, dengan total ketersediaan mencapai 47,2 juta ton. Angka ini mengindikasikan kondisi yang disebut sebagai “aman” atau dalam bahasa kebijakan, cukup untuk membuat grafik terlihat meyakinkan.
Komoditas lain juga menunjukkan tren serupa:
- Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir 5,35 juta ton
- Gula konsumsi sekitar 1,3 juta ton
- Bawang merah 38 ribu ton
- Cabai besar 58 ribu ton dan cabai rawit 73 ribu ton
Untuk protein hewani, stok daging ayam ras mencapai 1,68 juta ton dan telur ayam ras sekitar 948 ribu ton.
Jika dilihat dari angka, dapur nasional tampak penuh. Namun, seperti biasa, angka dan realitas di pasar kadang berjalan di jalur yang berbeda.
Dari sisi harga, Bapanas menyebut sebagian besar komoditas relatif stabil. Harga beras medium berada di kisaran Rp13.379 per kilogram, sementara beras SPHP sekitar Rp12.444 per kilogram.
Namun, tidak semua komoditas ikut dalam “barisan stabilitas”. Cabai rawit merah, misalnya, masih bertahan di angka sekitar Rp75 ribu per kilogram melewati harga acuan pemerintah.
“Awalnya tinggi karena faktor cuaca, tetapi trennya mulai menurun,” kata Astawa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









