Sementara itu, minyak goreng curah bersubsidi MinyaKita juga masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET), meski diklaim mulai menunjukkan penurunan.
Secara satir, kondisi ini menggambarkan satu hal: stok boleh berlimpah, tetapi harga tetap punya “kehendak bebas”.
Dengan kondisi surplus, Bapanas mulai mendorong ekspor beberapa komoditas seperti ayam, telur, dan bawang merah ke negara-negara tetangga seperti Filipina, Singapura, dan Malaysia.
Langkah ini menunjukkan bahwa kelebihan produksi tidak hanya menjadi cadangan, tetapi juga peluang ekonomi.
Di balik optimisme tersebut, Bapanas mengakui masih adanya ketergantungan impor untuk komoditas tertentu, seperti kedelai dan bawang putih.
“Fokus kami adalah meningkatkan produksi kedua komoditas tersebut,” ujar Astawa.
Secara keseluruhan, narasi surplus pangan menggambarkan kondisi makro yang positif. Namun, di tingkat mikro, konsumen masih berhadapan dengan harga yang kadang sulit ditebak.
Fenomena ini menegaskan satu hal: dalam dunia pangan, ketersediaan bukan satu-satunya variabel distribusi, cuaca, dan dinamika pasar tetap memainkan peran penting.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









